Ada apa? Ada ini. Ada itu. Ada anu. Disini.
Banyak rasa sulit kata: kelapa kosong tanpa airnya yang manis.
Mungkin itu yang seringkali saya rasakan disini. Rasa itu membawa
saya pada banyak hal dalam diri saya yang belum selesai, misalnya minat
menulis. Menulis, kegiatan yang saya
sukai dan dapat menghidupkan imaji saya, rasanya menjadi sulit. Menulis menjadi begitu berat untuk
dilakukan. Rasa tidak ada yang ingin
dituliskan dan tidak tahu hendak menulis apa. Namun saya menulis juga karena sebuah kata-kata bahwa jika kamu tidak
tahu apa yang hendak dituliskan, maka tuliskanlah saja ketidaktahuanmu. Dan menulislah saya.
Beberapa minggu sudah saya berada disini. Banyak hal
berkecamuk dalam benak saya: ini, itu, dan anu. Berganti-ganti setiap waktu, bergantung pada
pemercik yang ditawarkan dari luar. Semua tidak
berlangsung semudah yang saya bayangkan bagi diri saya, walaupun saya sangat
tahu dengan sedikit kesombongan diri bahwa saya terbiasa menghadapi hal
menantang serupa. Namun, pudar sudah
semua ego itu ditampik oleh berantakannya yang ada dalam hati dan pikiran saya
saat ini. Ya, saya masih butuh belajar, meregang, dan belum nyaman.
Ini..
Ada cemas di awal.
Tentang kesiapan dan harapan.
Tentang pembelajaran dan pengharapan.
Tentang komitmen, kekuatan, dan kesediaan.
Tentang kelayakan dan kemampuan.
Tentang pertemanan dan kenyamanan.
Lalu muncul keraguan. Sekaligus penghiburan.
Penghiburan-ragu-penghiburan-ragu datang berlagu bertalu-talu.
Satu bisik terngiang: masih ada waktu, rasakan rasakan
rasakan dan pasti ada jawaban.
Itu..
Satu dua sudah terurai, tiga empat muncul kemudian.
Dinamika pemikiran dan kepercayaan.
Pertimbangan dan ketakutan.
Muncul tawa, juga kekhawatiran.
Ada kedekatan, percikan kenyamanan, yang disebut teman.
Lalu muncul pergolakan dan kembali kesepian dari dalam.
Kosong-isi-kosong-isi selang seli berganti-ganti.
Satu kumpul kata terhimpun: tenang, sabar, simpan, dan
nantikan.
Anu..
Dan dideklarasikanlah suatu keputusan yang hanya dapat
ditanggapi dengan satu kata: te-ri-ma.
Muncul anu:
perasaan yang abstrak tentang kegelisahan dan pertanyaan.
Mata menatap ke depan pikiran menerawang.
Dalam diam saya bertanya, tertawa sambil menggoda diri,
sesekali mengejek, dan tersenyum parut.
Dalam menatap ada kekosongan. Kekosongan yang penuh dengan riak yang membeku.
Anu. Perasaan yang sulit dituangkan. Keresahan yang sulit didamaikan.
Hanya dapat tetap berpegang teguh dan percaya pada yang
baik.
Dimana ada kebaikan pasti ada kebaikan.
Disini..
Disini, disini (menunjuk kepala), dan disini (menunjuk dada) banyak yang terjadi.
Waktu yang bergulir kadang terasa diam, kadang terasa
berderak tanpa ampun.
Ruang disini terasa sempit dan lebar, sepi dan ramai, diam
dan merayap.
Lampu, dinding, kursi, meja, spidol, papan tulis, dan
gelas murah itupun menatap berkata dalam diam: Apa yang kamu lakukan?
Kemudian memberikan isyarat dengan kaku bahasanya: Selalu
ada harapan dalam pembelajaran.
Walau dimulai dengan diam ataupun tersungkur, harapan tak
pernah padam.
==============================================================
*Tulisan lampau ini ditulis pada tanggal 30 September 2012 di Purwakarta untuk suatu tugas penulisan. Saat membereskan berkas lama, menemu ini. Dan menarik juga menyadari bahwa waktu bisa menjadi kunci pada perputaran emosi (eits). Akhirnya memutuskan untuk mengeposnya di blog dengan melakukan penyuntingan disana-sini agar latarnya tidak terlalu kentara :p


No comments:
Post a Comment