Cerita yang selama ini
Ah, saya lakukan lagi dosa itu. Dosa menelantarkan blog ini, haha. Dan seperti yang sudah-sudah, pada awal pos-pertama-setelah-setelah-sekian-lama, saya akan katakan: Banyak hal yang terjadi. Dozen things came across my life. Yah, tipikal.
Banyak hal yang terjadi sejak terakhir saya menulis blog—tahun lalu (krik). Tapi saya punya alasan kuat kenapa pos terakhir berhenti di bulan Agustus 2013. Itulah saat saya masuk ke babak baru, menjajaki pekerjaan baru! Atau pekerjaan pertama sih tepatnya, karena pekerjaan yang lalu belum sempat menetas hehe. Daaaaan, percaya gak sih kalau profesi 'pecah telor' ini adalaaaaaaah.......(drum roll, please).....wartawan! Jurnalis. Pewarta. Yes, another bucket list checked!
Saya bekerja untuk media online bertajuk lingkungan. Memang keinginan saya sih, kalau nggak jadi wartawan jalan-jalan ya jadi wartawan lingkungan, hanya karena menghindari topik politik, bisnis, olahraga. Media yang baru berkembang ini, punya konsep geojurnalisme, Apa itu geojurnalisme? Saya nggak akan jelasin disini, langsung intip aja ke Ekuatorial.com. It's a sister website of Infoamazonia.com from Brazil by Earth Journalism Network-EJN.
Profesi wartawan sudah sejak lama jadi obsesi terpendam saya. Salah satu yang ingin saya jajali dalam hidup, sebelum mati. Saya ingin pernah menjadi wartawan, seperti mengajar. Ingin di masa depan bisa berkata: I once was a journalist. Seperti saya ingin bisa berkata: I once teach (tapi yang ini belum kesampaian).
Menjadi wartawan anehnya membuat saya jatuh cinta, tenggelam. Walaupun belum bisa membuat penyakit menunda-nunda atau deadline syndrome saya sembuh benar, tapi menjadi wartawan jelas mengasyikan sekaligus menegangkan. Bersilaju dengan waktu itu menguras emosi, memusingkan sekaligus menggairahkan. Tapi saya tidak akan cerita panjang lebar tentang menjadi wartawan disini, bukan itu fokusnya :p
Yang terulang
Itu sih hal besar sejak Agustus 2013, bulan pertama saya ditugaskan menjadi wartawan. Sejak itu saya tidak ingat untuk menulis blog lagi, sampai saat ini. Memang ada yang terjadi saat ini, yang membuat saya bisa leha-leha sejenak mengerjakan ini dan itu. Berkah lain lagi. Sudah sebulan saya tidak aktif bekerja, ada hal yang terjadi (lagi). Hal yang ternyata laten, yang sepertinya bisa muncul sewaktu-waktu, dan belum ada jawabannya. Tenang, saya (sudah) stabil. Saya bertekad kali ini akan menemukan jawabannya, saya akan jadi detektif untuk diri sendiri. Apapun saya curahkan. Tidak akan saya biarkan lain kali terjadi lagi, saya tidak akan kalah.
Yang baru
Sejak awal saya yakin kalau tahun ini, tahun 2014, akan menjadi rol film yang baru buat saya. Akan ada banyak babak dan episode baru, juga lagu-lagu latar baru haha. Semangat saya terlalu menggebu menyambut tahun ini, rasanya thrilling! Resolusi sudah rampung bahkan sebelum menginjak awal tahun, rencana-rencana gila di masa depan, anganan yang akan terjadi di depan, susunan rutinitas baru, dan daftar hal baru yang akan nekat dijajaki. Tapi, ah, sekarang sudah bulan April belum juga menelaah kembali resolusi dan rencana aksi tahun ini haha haha, payah. Gak apa deh, yang penting semangatnya dulu uhui.
Koar semangat itu termanifestasi selain ke resolusi juga ke tekad pribadi bahwa akan menjadi pribadi yang lebih BAIK. Baik itu klise sih, tapi maksud saya baik disini adalah menjadi lebih disiplin (dalam bekerja, istirahat, dan bersenang), dapat diandalkan, dan menjadi teman yang lebih baik (good friend, bukan nice friend).
Ada hal baru lain di pekerjaan, selain peluncuran Ekuatorial di bulan Januari lalu, yaitu rekan kerja baru. Yap, rekan kerja baru. Rekan jurnalis sebelumnya, mas W, terpaksa mundur karena gangguan kesehatan. Sedih sih, kasihan. Sekitar 3 bulan saya kerja sendirian. Tapi akhirnya awal tahun ini punya rekan baru juga! Ia lelaki sebaya asal Bukit Tinggi yang kuliah di Jakarta dan menjadi anggota organisasi paling maskulin di Indonesia (katanya). We've made a quiet good team so far.
Oh, satu lagi, saya bahkan memberikan kartu tahun baru untuk bos saya yang orang Bali itu dan rekan baru saya itu. Saking semangatnya menyambut tahun baru dan bentuk afirmasi tekad kinerja baru di pekerjaan sih.
Lalu, ada hal yang nggak kalah fenomenalnya dari partner baru. Di pertengahan Maret, masuklah personil baru di Ekuatorial yang sudah lazim dalam hidup saya. Dialah Cumi!!! Januar Hakam, kawan bebocahan sejak di bangku kuliah, kawan sepembimbing dan segolongan darah (apa deh), kawan geng yang sama-sama ketje, sohib yang sempat dicurhatin kisah asmara yang lalu, yang selalu bisa kasih masukan logis. Ahahaha, nggak pernah menyangka kami bisa satu kantor dan mengerjakan hal ini. Kantor akan jadi lebih berwarna, and it does!
Intinya,
Tahun baru, semangat baru, gairah baru, pekerjaan baru, tim baru, penugasan baru, tantangan baru, hal-hal baru, mimpi baru, dan semoga teman-teman baru.
Yang kembali
Salah satu yang menarik dari menunggu datangnya tahun ini adalah teman-teman yang pernah seperjuangan akan pulang dari perantauan selepas mengabdi pada anak-anak pertiwi!
Selain rindu, perasaan saat itu entah kenapa terasa sangat tegang dan berdebar, seperti menanti kekasih pulang berlayar merantau. Super exciting! Dan saat melihat wajah-wajah mereka kembali untuk pertama kali di Bandara Soekarno-Hatta, semua rasa bergejolak. Hanya bisa tersenyum sumringah sampai gigi kering, melempar tawa dan canda sampai keracunan serotonin.
Kejutan penyambutan yang saya siapkan sejak dua bulan sebelumnya juga sukses memercik haru di wajah mereka. Sama sekali nggak sia-sia diduga 'gadis penjual bunga' di bus Damri haha. Sangat menyenangkan berkumpul kembali setelah terpisah setahun dalam frekuensi berbeda.
Yang pergi dan yang bersatu
Ada yang pergi. Ayah seorang sahabat di pertemanan 'gerwani', Erby, pergi berpulang, setelah hampir dua bulan terbaring di ruang ICU tak sadarkan diri. Koma. Sebelumnya pernah juga saya menjenguk beliau atas keluhan penyakit yang sama, tahun lalu. Singkat kata, banyak yang saya pelajari dari hal ini. Banyak peluh tercurah, air mata tersirah, kepedulian bersimbah, dan pertemanan yang tercerah. Dari rangkaian hari-hari penuh segalanya itu, saya belajar dari pribadi Erby yang tak pernah muncul sebelumnya. Saya juga banyak belajar dari teman-teman lainnya, yang selalu mengucur meluncur memberikan apa saja yang dipunya. Saya mengambil sesuatu paling berharga dari sini, bahwa pertemanan bisa jadi tempat pulang. Makin mantap saja niat saya untuk terus mempertahankan dan menjaga pertemanan yang layak.
Sekarang, walaupun kalian (Erby dan Bella) sudah resmi jadi dua batang kara karena koma telah menjadi titik, jangan khawatir. Kita selalu bisa jadi tempat pulang. Kita bisa jadi dewan kakak buat Bella.
Kemudian ada yang bersatu. Yang ini kabar bahagia. Satu sahabat pertemanan gerwani kami menikah. Walaupun menjadi pembuka dalam lingkaran pertemanan ini, tapi kami nggak terlalu kaget. Mereka memang sudah cocok menikah. Saya kagum dan sangat terpesona dengan usaha dan kekuatan mereka menuju pernikahan, padahal banyak halang rintang di tengah jalannya datang dari segala penjuru. Makin saja saya menggilai suami sahabat saya itu atas pribadinya yang mengagumkan, turut bersyukur untukmu, sahabat!
Di pernikahan ini saya membantu mengurusi hari H prosesi pernikahan dan itu sangat menegangkan! Menjadi panitia pelaksana kegiatan sudah sering saya lakukan, tapi kalau soal pernikahan, lain cerita. Memastikan semuanya berjalan dan berkomunikasi dengan dua keluarga tak pelak membuat saya canggung, pernikahan teman taruhannya bos! Ini juga kali pertama saya menjadi pendamping pengantin wanita alias bridesmaid, seru juga!
Daaaan, sekadar informasi, sang istri sekarang sedang mengandung buah cinta mereka berdua! Turut bahagia, cheers!
Yang (ter)lewat
Sepertinya ada yang terlewat. Urusan yang baru datang ini sebentar lagi juga akan saya lepaskan lagi. Saya memilih turun dari kursi di roller coaster dan pindah ke kursi di tribun sirkus. Untuk urusan yang terakhir ini, sekarang saya pilih jadi penonton saja. Sambil makan popcorn, minum soda, membaca buku komedi, tertawa terbahak, dan berkirim pesan dengan teman.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment