Cerita Vince ini saya tulis untuk memenuhi tugas menulis cerpen di bangku SMA. Pada saat itu saya sedang menggandrungi novel filsafat populer karya Jostein Gaarder. Cerita Vince ini mendapatkan percikan inspirasi dari novelnya yang berjudul The Orange Girl (Gadis Jeruk) dalam hal surat dari orang yang telah tiada. Saya sangat menghayati emosi yang diciptakan saat seseorang mendapatkan kata-kata otentik tulisan tangan dari orang tersayang yang telah meninggalkan, sehingga ingin menduplikasi sulap tersebut kembali.
Sejak dulu saya selalu tertarik untuk membuat cerita dengan tokoh utama berlawan jenis dengan saya. Mungkin praktisnya karena saya penasaran dengan bagaimana lelaki merespon suatu masalah. Namun, pada masa SMA saya belum terlalu mengerti bagaimana cara otak lelaki berproses, maka pada beberapa adegan percakapan cerita Vince masih terasa kesan feminim, kurang lelaki.
Pada saat itu pula, topik tentang hubungan antara ayah dan anak
lelakinya selalu menggelitik saya. Ada sesuatu yang menarik pada
hubungan itu. Saya yakin selalu ada cerita di balik hubungan seorang
ayah dan anak lelakinya, di seluruh belahan dunia. Salah satunya mungkin
mengandung unsur yang emosional, buktinya saat saya memperlihatkan cerita Vince pada ayah
saya untuk dibaca, beliau menangis! Saya kaget karena saya pikir
cerita ini biasa-biasa saja dan rasanya penyampaian emosinya masih
belum mulus.
Soal latar, saya berimajinasi bahwa latar cerita terjadi di pinggiran Eropa tahun 70-an, dimana melanjutkan sekolah di universitas belum terlalu populer (atau menjadi kebutuhan primer) dan unsur religiusitas masih terasa cukup kental. Nama Vince sendiri saya pilih acak karena preferensi pribadi dan sedikit terisnpirasi dari lagu Vincent (Starry Starry Night) oleh Don McLean, penyanyi lawas favorit saya. Nama Vince merupakan salah satu bentuk turunan dari nama Vincent, selain Vinnie, Vincente, Vincenzo, dll. Vincent sendiri merupakan nama yang kini diserap Amerika dan Inggris, berasal dari kata Latin Vincentius atau Vincere, yang artinya kuat (prevailing) dan penakluk (conqueror). Terkadang ada juga yang memaknainya sebagai seorang yang suci sejak seringnya nama Vincent digunakan oleh orang-orang suci (saints) pada awal masa Kristiani.
Soal 'rasa' dalam menulis cerita, saya pikir masih banyak yang bisa dibenahi. Saya akan terus berlatih menulis cerita :). Umm daaan saya baru sadar ada banyak sekali kata 'namun' di cerita ini :p
Ah iya harusnya gw komen di sini ya ew *lupa*
ReplyDeleteOkeh,, sedikit, 'feminin' ew, bukan 'feminim' hahaha :p
Gw udah baca semuaaaa, dan yang paling ngena di gw adalah Vince part-1. Emosinya dapet banget ampe nangis gw T___T
Begitu masuk Vince 2-4, gw malah ngerasa kayak epilog gitu jatohnya, kayak sekilas info. Mungkin karena cukup singkat ya, tapi emang tugas sekolah sih --"
Akan sangat keren sekali kalo lo bisa menceritakan lagi lebih dalam, jadiin novel aja sekalian,, atau seri Vince ampe 20 chapter-an, hahaha,, masih penasaran soal Sara nih guweee...
Latarnya gw ga dapet, lo kurang menjelaskan scene-sih, lebih ke hubungan manusianya aja,, jadi gw gak ngeh kali ya.. *atau fokus gw aja yang jelek wkkwk*
TERUSIIIINNNNN AAAAAAA gw mau yang cerita-cerita ketika ada ibunya, trs pas sama Sara dulu,, chapter khusus ttg Sara yang melarikan diri (pasti konfliknya seruuu *mulai deh berimajinasi*).
Overall keren! Gw bangga beud dah punya temen kayak lo! Hahahaha :*