Beberapa bulan ini diketahui
bahwa Vince mengidap kanker otak ganas. Memang sudah lama sering dirasakannya
kepalanya sangat sakit luar biasa, namun tak pernah dipedulikannya, walau tak
jarang juga ia tiba-tiba jatuh saat sedang bekerja. Umur Vince divonis tinggal
sebentar lagi. Pada saat getir itu, tiba-tiba datang seorang bidadari manis
pujaan hati. Datang ke hadapan Vince. Vince hampir tak percaya. Dipikirnya ini
mimpi belaka. Sampai saat ia yakin bahwa itu bukan lamunannya, terjadilah
percakapan.
“Kaukah itu, Sara?”
“Ya, Vince, ini aku. Maafkan aku
jika…” belum sempat melanjutkan Vince memotong.
“Janganlah kau meminta maaf, kau
tak ada salah padaku. Tak baik kau ada disini, kau sekarang bukan lagi yang
dulu, kau milik orang lain sekarang…”
“Aku lari…”
“Apa maksudmu…”
“Aku lari, Vince…aku bukan milik
siapa-siapa sekarang…kau pikir semudah itu aku melupakan janjimu dulu? Enak
saja, kau harus menepatinya…”
Air muka Vince berubah pucat.
“Maafkan aku… aku tak akan pernah
bisa menepati janji itu…maaf…aku tak akan pernah bisa bahagiakanmu…”
“Karena kau sakit? Ayahmu sudah
cerita padaku.”
Vince terperangah. Sara
melanjutkan.
“Justru itu Vince. Aku ingin
menggunakan waktu yang singkat ini untuk ada bersamamu. Tahun akhir-akhir ini
aku sangat tidak bahagia. Kunanti-nanti saat seperti ini Vince…”
“Tapi aku tidak bisa…”
“Mengapa? Kumohon jangan
sia-siakan waktumu Vince. Ada
di dekatmu cukup membuatku bahagia…”
“Ya, kau akan bahagia..setelah
itu aku akan meninggalkanmu…dan kau akan sendirian…aku hanya akan menyakitimu…”
“Aku tidak takut kau tinggalkan.
Selama kita punya kenangan yang indah, aku akan kuat….Atau mungkinkah kau yang
takut? Takut untuk meninggalkanku? ”
Vince terdiam. Dia menyerah.
Seminggu kemudian mereka menikah.
Sangat sederhana, hanya ada orang-orang terdekat saja. Ayah Vince sangat lega
melihat putranya yang sudah melangkah sejauh ini. Perasaannya kini tenang dan
sudah pasrah jika nanti harus dipanggil Tuhan. Namun takdir berkata lain. Apa
daya, maut tak bisa diatur. Siapa yang tahu siapa yang akan mati lebih dahulu. Sebulan
setelah menikah, Vince yang telah lama lelah, pergi ke dalam ketenangan hakiki,
jalan terakhirnya. Ia meninggalkan sepucuk surat.
‘ ayah…terima kasih atas segala yang telah kau beri selama ini. Aku sangat
bersyukur, karena pada saat-saat terakhirku, aku telah disadarkanNya. Aku
diberi kebahagiaan dariNya. Kebahagiaan yang sangat besar yang salah satunya
bahkan telah diberikanNya sejak dulu namun aku tak pernah menyadarinya. Itu
adalah kau, ayah. Tuhan tak pernah lupa padaku. Tuhan tak pernah luput. Aku
tahu sekarang mengapa aku diberi kehidupan oleh Tuhan, semua semata-mata bukan
untuk sia-sia, tapi untuk mencari tahu mengapa aku diberi kehidupan, untuk
belajar, untuk memberi arti. Paling tidak untuk bahagia, untuk ketenteraman dan
untuk bertemu dengan ayah dan ibu…
Aku tahu kini bahwa Tuhan tak pernah tak adil padaku.
Kemalangan-kemalanganku sebelumnya hanya untuk menguji kesabaranku saat ini
sampai aku mendapat kebahagiaan yang sebegitu besarnya saat ini. Telah lama aku
berprasangka buruk pada Tuhan. Tapi aku yakin, aku pasti dimaafkan. Tuhan Maha
Pemaaf.
Ayah… betapa lama aku telah membuang-buang umurku dengan tak manfaat.
Aku mohon maaf tak pedulikan kata-katamu sejak lama. Ayah, jika saatnya aku
pergi, jangalah kau tangisi aku…itu bukan suatu kesedihan…aku juga tidak sedih
akan pergi…aku bahagia,,di saat terakhir Tuhan berikan aku Sara dan kau… aku
sangat bahagia dan bersyukur…aku tidak ingin seperti air dalam cerita ayah.
Tidak ada lagi yang lebih pantas aku dapatkan setelah itu semua…mungkin aku
orang yang sangat bahagia di dunia ini karena itu…Ayah harus tahu seberapa aku
mencintai ayah. Besar, sangat besar. Namun sama besarnya seperti aku mencintai
ibu…
Tak ada yang tahu kapan ia akan pergi…jika aku pergi lebih dulu dari
ayah, kumohon ayah jangan pernah berharap untuk dapat menyusulku secepatnya.
Jalani saja hidup ayah apa adanya, nikmati dan berbahagia sajalah. Aku tahu walau
ayah sangat mencintaiku tapi janganlah sampai melebihi cinta ayah pada Tuhan
karena semata-mata aku juga adalah anugerah yang datangnya dari Tuhan. Jangan
pernah ayah pikir aku akan menghilang, aku akan selalu berada di hati ayah
kapan pun ayah ingat aku. Aku sangat menikmati saat-saat kedekatan bersama ayah
akhir-akhir ini. Aku ucapkan terima kasih atas itu semua. Ayah adalah
orang yang terhebat bagiku…
Sara…terima kasih telah mengisi sisa-sisa kehidupanku. Kau sangat berarti
bagiku…jangan pernah menyesali kepergianku…Sara, kutitipkan ayah padamu.
Jagalah ia baik-baik. Temanilah dia. Rawat dia.
Sara…jika Tuhan megizinkan kita akan kehadiran anak…sampaikanlah pada
anak kita bahwa kehidupan adalah sangat berharga. Hidup adalah anugerah terbesar
yang diberikan Tuhan pada kita…
Ayah, Sara… mungkin cukup saja itu…terima kasih atas segalanya…ayah,
aku akan ceritakan semua ini pada ibu jika tiba saatnya…aku sangat menyayangi
kalian…’
Vince
END~
No comments:
Post a Comment