Vince (part 4)



Beberapa bulan ini diketahui bahwa Vince mengidap kanker otak ganas. Memang sudah lama sering dirasakannya kepalanya sangat sakit luar biasa, namun tak pernah dipedulikannya, walau tak jarang juga ia tiba-tiba jatuh saat sedang bekerja. Umur Vince divonis tinggal sebentar lagi. Pada saat getir itu, tiba-tiba datang seorang bidadari manis pujaan hati. Datang ke hadapan Vince. Vince hampir tak percaya. Dipikirnya ini mimpi belaka. Sampai saat ia yakin bahwa itu bukan lamunannya, terjadilah percakapan.
“Kaukah itu, Sara?”
“Ya, Vince, ini aku. Maafkan aku jika…” belum sempat melanjutkan Vince memotong.
“Janganlah kau meminta maaf, kau tak ada salah padaku. Tak baik kau ada disini, kau sekarang bukan lagi yang dulu, kau milik orang lain sekarang…”
“Aku lari…”
“Apa maksudmu…”
“Aku lari, Vince…aku bukan milik siapa-siapa sekarang…kau pikir semudah itu aku melupakan janjimu dulu? Enak saja, kau harus menepatinya…”
Air muka Vince berubah pucat.
“Maafkan aku… aku tak akan pernah bisa menepati janji itu…maaf…aku tak akan pernah bisa bahagiakanmu…”
“Karena kau sakit? Ayahmu sudah cerita padaku.”
Vince terperangah. Sara melanjutkan.
“Justru itu Vince. Aku ingin menggunakan waktu yang singkat ini untuk ada bersamamu. Tahun akhir-akhir ini aku sangat tidak bahagia. Kunanti-nanti saat seperti ini Vince…”
“Tapi aku tidak bisa…”
“Mengapa? Kumohon jangan sia-siakan waktumu Vince. Ada di dekatmu cukup membuatku bahagia…”
“Ya, kau akan bahagia..setelah itu aku akan meninggalkanmu…dan kau akan sendirian…aku hanya akan menyakitimu…”
“Aku tidak takut kau tinggalkan. Selama kita punya kenangan yang indah, aku akan kuat….Atau mungkinkah kau yang takut? Takut untuk meninggalkanku? ”
Vince terdiam. Dia menyerah.

Seminggu kemudian mereka menikah. Sangat sederhana, hanya ada orang-orang terdekat saja. Ayah Vince sangat lega melihat putranya yang sudah melangkah sejauh ini. Perasaannya kini tenang dan sudah pasrah jika nanti harus dipanggil Tuhan. Namun takdir berkata lain. Apa daya, maut tak bisa diatur. Siapa yang tahu siapa yang akan mati lebih dahulu. Sebulan setelah menikah, Vince yang telah lama lelah, pergi ke dalam ketenangan hakiki, jalan terakhirnya. Ia meninggalkan sepucuk surat.

‘ ayah…terima kasih atas segala yang telah kau beri selama ini. Aku sangat bersyukur, karena pada saat-saat terakhirku, aku telah disadarkanNya. Aku diberi kebahagiaan dariNya. Kebahagiaan yang sangat besar yang salah satunya bahkan telah diberikanNya sejak dulu namun aku tak pernah menyadarinya. Itu adalah kau, ayah. Tuhan tak pernah lupa padaku. Tuhan tak pernah luput. Aku tahu sekarang mengapa aku diberi kehidupan oleh Tuhan, semua semata-mata bukan untuk sia-sia, tapi untuk mencari tahu mengapa aku diberi kehidupan, untuk belajar, untuk memberi arti. Paling tidak untuk bahagia, untuk ketenteraman dan untuk bertemu dengan ayah dan ibu…
Aku tahu kini bahwa Tuhan tak pernah tak adil padaku. Kemalangan-kemalanganku sebelumnya hanya untuk menguji kesabaranku saat ini sampai aku mendapat kebahagiaan yang sebegitu besarnya saat ini. Telah lama aku berprasangka buruk pada Tuhan. Tapi aku yakin, aku pasti dimaafkan. Tuhan Maha Pemaaf.
Ayah… betapa lama aku telah membuang-buang umurku dengan tak manfaat. Aku mohon maaf tak pedulikan kata-katamu sejak lama. Ayah, jika saatnya aku pergi, jangalah kau tangisi aku…itu bukan suatu kesedihan…aku juga tidak sedih akan pergi…aku bahagia,,di saat terakhir Tuhan berikan aku Sara dan kau… aku sangat bahagia dan bersyukur…aku tidak ingin seperti air dalam cerita ayah. Tidak ada lagi yang lebih pantas aku dapatkan setelah itu semua…mungkin aku orang yang sangat bahagia di dunia ini karena itu…Ayah harus tahu seberapa aku mencintai ayah. Besar, sangat besar. Namun sama besarnya seperti aku mencintai ibu…
Tak ada yang tahu kapan ia akan pergi…jika aku pergi lebih dulu dari ayah, kumohon ayah jangan pernah berharap untuk dapat menyusulku secepatnya. Jalani saja hidup ayah apa adanya, nikmati dan berbahagia sajalah. Aku tahu walau ayah sangat mencintaiku tapi janganlah sampai melebihi cinta ayah pada Tuhan karena semata-mata aku juga adalah anugerah yang datangnya dari Tuhan. Jangan pernah ayah pikir aku akan menghilang, aku akan selalu berada di hati ayah kapan pun ayah ingat aku. Aku sangat menikmati saat-saat kedekatan bersama ayah akhir-akhir ini. Aku ucapkan terima kasih atas itu semua. Ayah adalah orang  yang terhebat bagiku…

Sara…terima kasih telah mengisi sisa-sisa kehidupanku. Kau sangat berarti bagiku…jangan pernah menyesali kepergianku…Sara, kutitipkan ayah padamu. Jagalah ia baik-baik. Temanilah dia. Rawat dia.
Sara…jika Tuhan megizinkan kita akan kehadiran anak…sampaikanlah pada anak kita bahwa kehidupan adalah sangat berharga. Hidup adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan pada kita…

Ayah, Sara… mungkin cukup saja itu…terima kasih atas segalanya…ayah, aku akan ceritakan semua ini pada ibu jika tiba saatnya…aku sangat menyayangi kalian…’
                                                                                               
                                                                                    Vince 

END~

No comments:

Post a Comment