Sesaat, Vince terbangun. Entah
apa yang telah ada di mimpinya semalam. Kemudian seperti biasanya, ia melakukan
pekerjaan-pekerjaan rumah. Membersihkan rumah, mencuci pakaian, membersihkan
halaman rumah, mengangkat air, membelah kayu untuk perapian dan lain sebagainya
yang dianggapnya perlu. Setelah itu, seperti biasa pula ia keluar mencari kerja
sedapatnya. Namun biasanya yang ia dapatkan hanyalah kerja kasar. Namun tidak
apa-apa, pikirnya, yang penting ia pulang bisa membawakan ayahnya makanan,
untuk yang lain-lainnya masih ia usahakan dengan terus mencari pekerjaan ke
tempat-tempat yang lumayan.
Sore harinya ia membenahi
kamarnya yang entah sejak kapan tak pernah ia bereskan lagi. Segala barang yang
sudah tak terpakai lagi ditaruhnya di gudang. Di gudang ia melihat
barang-barangnya dulu saat ia kecil, barang-barang saat ibunya belum
meninggalkannya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada suatu buku tebal yang
tidak lain adalah buku hariannya dulu. Diambilnya buku itu dari kotak kardus
yang berlabel ‘VINCE 14-15 THN’. Buku itu sungguh kotor dan tak ternilai lagi
debunya. Dibuka-bukanya buku itu. Dibacanya sekilas-sekilas. Lucu juga, pikir
Vince, pengalaman-pengalaman dulu. Juga ada tentang pemikiran-pemikiran Vince
saat remaja. Cukup cemerlang juga jika diukur dari usia saat ia menulisnya.
Terus dibuka-bukanya buku itu sampai ia melihat ada halaman, halaman terakhir,
yang menurutnya itu bukan tulisannya.
‘Vince, anakku, ada satu hal yang harus kau ingat sampai kau dewasa
nanti. Itu adalah bahwa ibu dan ayahmu ini sangat menyayangimu, nak. Sampai
kapan pun dan apa pun yang terjadi kami akan selalu menyayangimu. Peliharalah
dirimu baik-baik. Ibu minta maaf ya, kalau ibu menulis buku harianmu tapi tidak
bilang-bilang dulu… tapi kamu tidak marah kan? Vince, selain ibu, ayahmu adalah orang
yang paling menyayangimu, jadi kau harus selalu percaya padanya. Harus. Ada
suatu hal yang ingin ibu katakan, jika kau membaca lagi ini saat kau sudah mulai
dewasa, renungkanlah kembali. Jangan pernah berpikiran buruk terhadap ayahmu.
Ayahmu adalah orang yang paling baik yang pernah kutemui. Aku yakin akan hal
itu. Aku rasa kau juga akan mewarisi sifat baiknya itu. Tapi kau jangan bilang
padanya, ya. Ada
satu hal lagi yang harus kau ingat sampai kapan pun. Kehidupanmu adalah
anugerah terbesar yang pernah kau dapatkan. Jangan pernah sia-siakan waktumu
saat hidup, nak. Tuhan memberikan kita umur, kehidupan pasti ada maksudnya,
nak. Tidak mungkin semua itu semata-mata hanya untuk dimainkannya saja. Tuhan
memiliki rencana, itu pasti. Dan rencana itu pasti baik adanya, karena Tuhan
selalu menyayangi hambaNya, siapa pun itu. Yang perlu kau ingat hanya jangan
pernah menyalahi Tuhan atas segala apa pun yang kau alami. Atau bahkan hanya
untuk mengeluh. Hidup terlalu berharga untuk diisi dengan keluhan. Apalagi
hidupmu, kau sangat bersinar…’
Jantung Vince seperti berhenti
berdetak membacanya. Tulisan ibunya. Ibunya yang lama telah pergi seakan hadir
dan menasehatinya kembali. Ini perasaan yang aneh bagi Vince. Sambil mengusap
tetes di pipinya, Vince melanjutkan membaca.
‘…kau adalah insan terindah bagi ibu dan ayahmu,nak. Setiap manusia
pasti ada tempatnya sendiri-sendiri. Bahkan semut pun tak pernah kekurangan
makan walau ia sekecil itu. Tuhan tak pernah luput akan apa pun,
sekecil-kecilnya. Tak akan ada kapal yang berlayar jika tak ada nahkoda, tak
akan ada nahkoda jika tak ada penumpang yang ingin menyeberangi lautan dan
bahkan tak akan ada kapal jika tak ada samudera. Semua telah ada dalam
perkiraan Tuhan, nak. Tuhan tak pernah salah. Tuhan selalu punya rencana. Kau
tinggal berusaha menggapainya. Kau diberikan hidup, nafas dan keluarga,
janganlah pernah kau tanyakan untuk apa itu. Nanti kau akan jawab sendiri jika kau
sudah bisa merenungkan ini. Jika pernah kau ditanya mengapa kau mau menjalani
hidup di dunia, janganlah serta merta kau jawab. Pertanyaan itu sama saja
dengan jika kau diberi pilihan diberikan hidup di dunia tapi beserta segala
masalahnya atau kau tidak diberi kesempatan sama sekali untuk melihat dunia. Baiklah,
itu saja, ya, Vince, mungkin ibu sudah bicara terlalu banyak sampai membuat kau
bingung…
sayang selalu,
Ibu…’
Vince sesegukan usai membacanya.
Pikirannya kacau. Perasaan rindu yang amat sangat terhadap ibunya meluap-luap.
Perasaan menyesal, perasaan bersalah, perasaan hangat bahkan membasahi jiwanya.
Vince bingung, buyar, tak tahu apa yang ingin dan harus dilakukannya. Namun
entah mengapa kelambu besi pelapis hatinya terasa semakin terkikis terus dan
terus. Hatinya seakan disirami kehangatan, lain, terasa sangat lain. Seketika
ia berlari mencari ayahnya. Didapatinya ayahnya sedang duduk di beranda sambil
melukis entah apa yang masih belum jelas wujudnya. Vince berlutut di hadapan
ayahnya. Ia tak terkendali. Masih berlinangan air mata, Vince hanya bisa
memandangi ayahnya. Ayahnya yang sejak tadi bingung melihat wajah Vince,
serta-merta langsung mendekap anaknya itu. Tangis Vince langsung meledak.
Setelah agak mereda ia mulai bicara.
“Ayah, maafkanlah aku selama ini.
Entah apa yang harus kukatakan lagi padamu. Mungkin kau benar bahwa Tuhan tidak
seburuk yang aku pikir. Tapi…entah apa yang harus kuyakini saat ini. Aku tahu
ayah sangat menyayangiku, kebekuanku selama ini membuatmu ikut beku. Aku tak
pernah belajar apa-apa dari apa yang ayah katakan… aku memang bodoh ayah…”
Setelah semua mereda, mereka
mulai berbicara secara tenang.
“Ayah, aku tahu kau sangat
menyayangiku…apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Apa pun” jawab ayahnya.
Jantung Vince berdegub kencang,
mempersiapkan segala kemungkinan yang tak diharapkannya.
“Saat 16 tahun, teman ayah pernah
bilang kalau saat itu ayah dipecat karena ….karena…..”
“Membawa lari harta atasan ayah
yang perawan tua itu?” lanjut ayahnya dengan sangat mengejutkan.
Vince seakan berhenti bernafas
sejenak.
“Ya, yang kudengar begitu…”
“Itu hanya fitnah, nak, mengapa
kau baru tanya sekarang? Pasti kau juga mendengar bahwa itu sudah berlangsung
lama sejak ibumu masih hidup, kan?
Yah, dasar memang perawan tua itu kurang ajar. Sudah lama ia mengejar-ngejar
ayah. Bahkan ayah hendak dijadikan suaminya, kalau ayah tidak mau, ayah akan
dipecat. Ya tentu saja ayah memilih dipecat. Orang yang waktu itu memberitahumu
seperti itu bukan teman ayah, kemungkinan besar ia rival ayah.”
“Sampai saat seperti itu ayah
masih tak pernah menyalahkan Tuhan?”
“Tuhan tak pernah salah, nak. Ia
melakukan itu justru untuk menyelamatkanku dari perawan tua itu bukan? Tuhan
menginginkan aku untuk lebih bersabar. Tuhan tahu yang terbaik bagi kita, nak."
Pembicaraan terus berlangsung. Berlangsung sangat panjang. Tak pernah mereka bicara sepanjang dan sedewasa ini selama ini. Vince banyak belajar. Dia bukan hanya belajar dari kata-kata, namun surat ibunya itu telah mengingatkannya betapa berat dan hebatnya ibunya berjuang dulu menghadapi penyakit yang terus menggerogoti dan terus mengurangi umur hidupnya. Itu yang menyadarkannya.
(to be continued)--
(image source: dpshots)

No comments:
Post a Comment