Hari-hari selanjutnya seakan sama saja bagi Vince. Sama beratnya. Semangatnya yang tinggal semangat abu itu hanya menunggu tertiup angin dan hilang. Hari ini agak sedikit lain dari hari-hari biasanya. Namun, "lain" ini mungkin hanya dirasanya sedikit sekali. Satu sendok teh dari sekilo gula pasir, jika dianalogikan. Walaupun kemarin ayahnya telah mengatakan dengan sepenuh hati bahwa ia sangat menyayangi Vince, namun masih ada yang mengganjal di hatinya. Perasaan yang sudah lama dirasakannya atau mungkin lebih tepatnya sudah lama semakin tidak dirasakannya. Perasaan kelam yang bahkan sampai kini masih menyelimuti hatinya. Perasaan yang kini justru makin berat dirasanya. Vince sudah mati rasa. Kehangatan ayahnya kemarin bahkan hanya berlaku untuk kemarin. Kini hatinya amburadul, tak tahu lagi dimana dirinya berada sebenarnya. Kacau.
Dan malam itu Vince menggigil hebat. Entah karena dingin menusuk raga, entah sakit, ketakutan, atau apa. Segala memori masa lampau seakan dipajangkan di depannya. Roda kaset besar terus berputar. Berputar sesuai aturan waktu.
Saat itu, Vince hendak mengikuti perlombaan ilmiah. Ia menghendaki ayah dan ibunya datang dan mendukungnya. Namun, sampai akhir acara tak ada seorang pun yang datang bahkan hanya untuk melihatnya. Vince pulang dengan lemas. Sampai di rumah, suasana tak seperti biasanya, tak ada yang menyambut. Dilihatnya ke seluruh pelosok. Sepi, tak ada orang. Semakin kesal hatinya. Kemudian telepon berdering. Diangkatnya dengan tak berselera. Suara di ujung sana berkata bahwa nyonya Roan berada di rumah sakit. Jantung Vince seakan pecah, lebih-lebih ketika ia sampai di rumah sakit yang ia lihat hanya raga ibunya. Sudah tak bernyawa.
Dua tahun berlalu, belum selesai kepedihan Vince saat itu, ayahnya membawa kabar bahwa ia dipecat dari pekerjaannya. Kata ayahnya ia difitnah. Awalnya Vince tabah, namun lama-lama baru dirasakannya. Belum lagi tersiar angin busuk yang mengatakan bahwa atasannya bermain uang dengan atasannya. Saat itu Vince tidak percaya. Namun saat usianya menginjak 16 tahun, ada teman lama ayahnya berkata bahwa ayahnya pernah main gila dengan bosnya yang perawan tua hanya untuk menguasai hartanya saja, kemudian pergi membawa hartanya, maka itu ia dipecat dulu. Vince yang bingung tak tahu harus mempercayainya atau tidak, karena ayahnya pun tak pernah membahas masalah itu. Yang lebih parah, ada yang bilang ubungan terlarang itu sudah terjalin bahkan saat ibunya belum meninggal. Vince semakin kacau. Memang tak bulat-bulat berita itu ditelannya, namun tak juga ditepisnya keras-keras. Di luar alam bawah sadarnya, ia agak terpengaruh dengan berita itu. Perasaan yang dulu dirasakannya pada ayahnya saat itu sedikit-sedikit berubah.
Ayahnya yang kini tak punya pekerjaan, mencari pekerjaan seadanya. Namun entah mengapa tak ada yang menyangkut satupun juga saat itu. Ayahnya pun akhirnya hanya menjalani hobi lamanya dulu, melukis. Kalau sedang beruntung lukisannya dapat dihargai sangat mahal. Tapi tak jarang juga orang yang tak tertarik dengan lukisannya. Sampai akhirnya Vince berhenti sekolah pada usia 18 tahun. Tak tega lagi ia membebani biaya hidupnya pada ayahnya. Ia mulai kerja serabutan, namun tak ada yang cocok baginya. Terkadang ia malu bahkan sangat malu jika dilihat kawannya dulu saat bersekolah. Segala perasaan berkecamuk di dadanya, 'Mengapa Tuhan melakukan ini semua padaku? Apa yang ingin disampaikanNya padaku? Sepertinya ini semua sudah mulai tidak adil.' Begitu pikirnya setiap kali ia merasa sangat terpuruk. Namun, tak diduganya setahun kemudian ia ditawari bekerja pada seorang pengusaha kaya raya. Ia dianggapnya seperti anaknya sendiri. Pengusaha itu sangat menyukai Vince yang begitu ulet dan tak pernah menyerah. Vince memang anak yang cerdas, sangat cerdas bahkan jika dibandingkan dengan remaja-remaja seusianya. Di tempat ia bekerja, ia bertemu dengan sesosok cantik yang parasnya sudah tak asing lagi baginya. Parasnya membuat hati Vince senantiasa tenteram. Sara, gadis manis yang dulu juga pernah disukainya di sekolah. Ya, mereka teman sekolah sebelumnya. Vince saat itu semakin mengagumi sosok cantik yang sederhana itu. Sampai pada suatu saat Vince memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis baik budi itu. Dulu memang mereka pernah dekat, bahkan Vince pernah mengenalkannya pada ayah dan ibunya. Ayah dan ibunya pun menyukai gadis itu. Malah ibunya pernah mengajak gadis itu berkeliling kota. Gadis itu tahu segala kesusahan Vince saat itu sampai saat mereka harus berpisah karena Vince harus berhenti sekolah.
Vince seakan menemukan semangat barunya saat itu. Mereka sangat dekat. Sara bahkan telah ingat semua masalah yang sedang dialami Vince. Vince merasa ditumpahi kebahagiaan saat itu. Sara, tempat ia menumpahkan isi hatinya, tempat ia bersandar, tempat ia berbagi duka, tempat ia merasakan hangatnya kasih di saat-saat terpuruknya, membuatnya makin berarti. Hubungan mereka semakin dekat dari hari ke hari. Dan saat Vince menginjak usia 20 tahun, ia berjanji bagaimana pun ia terpisah dengan Sara, ia akan mencarinya entah kemana pun dan akan menikahinya nanti saat usianya 24 tahun. Pipi gadis manis itu merona merah saat Vince mengatakan hal itu. Namun, tak disangkanya tak lama setelah itu, Vince dipecat dari pekerjaannya. Gadis idamannya ternyata bukan orang yang tepat untuk disukai. Gadis itu ternyata telah dijodohkan dengan anak dari seorang pengusaha kaya raya yang tak lain adalah atasannya sendiri. Mereka tak pernah lagi bertemu. Sekejap, anugerah Vince yang dirasa begitu besar baginya hilang sudah. Vince kini hancur, remuk, kandas. Semakin tenggelam dan terbenam. Vince kehilangan selera, untuk berpikir, untuk merasa, untuk mengasihi, untuk menjalani hidup dengan baik, untuk bicara. Hidupnya kini dijalaninya tanpa hasrat. Seakan hanya titipan untuk dihabiskan. Hambar.
Sejak itu, ayahnya sering mengajaknya berbicara atau sekedar menasihatinya, namun Vince justru semakin muak, dan jauh dari jiwanya. Pernah ayahnya berkata,
"Vince, janganlah kau berlama-lama seperti ini, nak. Hidupmu masih panjang, pergunakanlah sebaik-baiknya. Usia 20 adalah usia penentuan jati dirimu yang sebenarnya. Apa yang kau tentukan saat itu akan sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu selanjutnya. Kumohon agar kau tidak salah menentukan."
Namun Vince malah menjawab,
"Apa yang kau tahu tentang diriku saat ini? Mengapa kau sangat mengurusiku? Apa pentingnya lagi hidupku saat ini? Janganlah kau terlalu mengurusiku. Tuhan saja tak perdulikanku. Sudah, tenang saja. Aku sudah pasrah. Mau dimainkan seperti apa hidupku ini, terserah Tuhan, aku tak peduli lagi apa yang akan diberikannya kepadaku."
Begitulah. Perlahan tapi pasti Vince selalu menyalahkan Tuhan jika kemalangan menimpanya. Sering ia berpikir, 'Apalagi yang Tuhan inginkan dariku? Segala kesialan telah ditimpakannya padaku. Apa masih kurang? Mengapa semua ini seakan tiada akhirnya bagiku. Kata orang, setelah mengalami kesusahan seseorang akan mendapati kebahagiaan. Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagiku. Mungkin Tuhan tidak ingin demikian adanya bagiku.' Tuhan, Tuhan, dan Tuhan, yang selalu ada dalam benak Vince.
(image source: Pavel Volkov)

No comments:
Post a Comment