==============================================================
Vince, begitu ia biasa dipanggil.
Nama yang sudah lama dibanggakannya ini semata-mata adalah pemberian ayahnya.
Vince memang anak lelaki yang periang, penurut dan baik hati, awalnya. Namun,
semenjak ibunya meninggal, semua menjadi lain. Ia kini hanya pemuda pemurung
yang setiap harinya diam. Dia masih taat terhadap ayahnya, namun hampir tak
pernah bicara seperti dulu lagi. Vince seakan lupa bagaimana dulu ia pandai
melucu dan bercerita pada ayah dan ibunya.
Suatu sore,
ayah Vince, tuan Roan, memanggil putranya. Duduk berhadapan di beranda rumah
kayu mereka. Sang tua memulai perbincangan.
“Kalau aku tidak salah ingat,
sudah 8 tahun aku tidak bicara lagi denganmu selayaknya ayah dan anak lelakinya.”
Vince membalasnya dengan
keheningan.
Ayahnya melanjutkan,”apa yang
selama ini ada dalam pikiranmu? Mengapa tahun-tahun selama ini tak pernah kau
katakan?”
Vince masih diam, sambil masih
menatap pada pohon kastanye di sebelah rumahnya.
“…tak adakah lagi hasrat bagimu
untuk bercerita padaku walau sedikit?”.
Akhirnya Vince pun menjawab, “apa
yang harus kuceritakan pada ayah? Apa yang ayah inginkan dariku? Bisa kulakukan
apa saja. Aku bisa jadi apa saja untukmu.”
“Aku hanya ingin kau, nak.”
“Aku? Aku yang bagaimana? Kau
ingin aku seperti apa?” jawab Vince yang masih menatap pohon kastanye itu.
Ayahnya menunduk, “Aku rindu
padamu, nak, rindu sekali,”
“Apa yang ayah rindukan dari
aku?” jawab Vince.
Kemudian dilanjutkannya lagi,
“Segala telah kulakukan untukmu. Aku bekerja, aku selalu membantumu. Apa lagi
yang harus kulakukan?”
“Vince, aku mohon, umurku sudah
tidak sepanjang kau, nak…”
Belum sempat melanjutkan, Vince
segera memotong cepat, “Apa! Ayah hendak katakana apa?! Ayah hendak meninggalkan
aku lagi seperti ibu?! Seegois itukah orang-orang di bumi ini?! Pergi dengan
damai tanpa memedulikan orang-orang yang ditinggalkannya?!”
“Vince…”
Namun cepat dipotong oleh Vince
kembali.
“Apa yang ayah inginkan? Kulakukan
segalanya jika ayah mau! Akan kubuat kau bahagia selamanya di sini sampai kau
lupakan niatanmu untuk meninggalkanku! Kumohon jangan bicarakan hal ini lagi!”
Pembicaraan pun selesai dengan
keheningan.
Malam berikutnya Vince tak bisa
tidur. Kepalanya penuh segala macam pemikirannya. Samar-samar terdengar suara
lembut dari ibunya.
‘Vince, jagalah ayahmu. Kaulah
ksatria baginya. Jaga terus dia sampai kau dewasa nanti…’
Selanjutnya sudah tidak terdengar
lagi, semakin jauh, jauh, jauh, dan hilang…
Kemudian ayahnya datang dan
berucap, ‘Vince…Vince anakku, jika kau ada beban, berikanlah sebagian padaku.
Jika kau lelah, sandarkan dirimu di punggungku. Tidak selamanya ksatria akan
tangguh. Sekali waktu dia butuh jiwa lain… Nak, aku sangat menyayangimu, tak
peduli berapa pun usiamu… Aku sangat menyayangimu…sangat menyayangimu…sangat
menyayangimu…menyayangimu…’
Begitu terus berulang-ulang
kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Vince. Terus, terus, sampai
akhirnya….ia terbangun.
Mimpinya itu sudah cukup membuat
dirinya bergetar hebat pagi harinya.
Sorenya ayahnya membuat secangkir
cokelat panas kesukaan Vince dulu. Cokelat panas memang selayaknya di sore
hujan seperti ini. Kemudian dipanggilnya anak itu.
“Vince, kemarilah,” pinta ayahnya
lembut.
“Ayah ingin bicara?” jawab Vince.
“Tidak, aku hanya ingin memandangimu.
Jika kau sedang tak ingin bicara, tidak perlu bicara.”
Kemudian kesenyapan melingkupi
mereka berdua, walau suara hujan terasa bising dan berirama. Namun itu cukup
sepi bagi mereka.
Cukup lama mereka diam. Namun
akhirnya ayahnya memulai.
“Kau ingat, mengapa air bisa
turun dari langit?”
Sepersekian detik, pikiran Vince
melayang. Saat itu, hujan sangat deras. Vince kecil sedang berjalan berpayungan
bersama ayahnya. Pertanyaan itu pun muncul, ‘mengapa air bisa jatuh dari
langit, ayah?’ Tanya Vince dengan muka polos dan suara lucunya.
Sedetik kemudian jiwanya telah
pulang.
“Air terlalu sombong. Tempatnya
itu di darat, namun ia ingin terbang ke langit karena iri melihat awan yang
senantiasa terbang bebas…”
Belum sempat ayahnya melanjutkan,
Vince meneruskan.
“Ia minta bantuan mentari untuk
mengangkatnya ke atas. Namun, lama-kelamaan ia tidak tahan menahan beban
sulitnya hidup di langit yang terlalu tinggi dan dingin itu baginya, hingga ia
jatuh kembali ke bumi. Karena memang di situlah tempat dia berada seharusnya.”
Jawab Vince masih dengan muka datar.
“Ya, air itu kurang bersyukur.
Kurang mensyukuri keadaan yang telah diberikan padanya. Ia tak pernah puas.
Tiap makhluk memiliki tempatnya sendiri-sendiri.”
Detik selanjutnya berada dalam
keheningan kembali. Kali ini cukup lama juga. Tak ada yang memulai. Keheningan
ini membuai lamunan Vince pada mimpinya semalam. Kata-kata ayahnya yang
samar-samar masih berlalu-lalang di kepalanya muncul kembali dengan jelasnya.
Sampai akhirnya Vince memulai dengan suaranya yang sangat pelan. Dengan
menunduk, ia berkata,
“…emm..kau menyayangiku?”
Namun suaranya tergerus
kebisingan hujan.
“Kau berkata apa, nak?” tanya
ayahnya.
“… apa ayah benar-benar
menyayangiku?” masih tertunduk.
Ayahnya tersenyum.
“Vince, kau anakku, aku sangat
menyayangimu.”
“Kau menyayangiku sebagai anakmu
atau sebagai Vince?” lanjut Vince.
“Aku sayang padamu sebagaimana
adanya dirimu. Siapa pun dirimu itu.”
Vince hanya bisa menatap sosok di
depannya dalam-dalam. Mata yang tadinya sayu, sedikit-sedikit mulai berair.
Gejolak pun mulai melanda jiwanya.
“Lalu kenapa? Kenapa, ayah?
Cobalah kau terangkan padaku. Ayah menyayangiku, ibu menyayangiku, aku juga
menyayangi kalian. Kupikir aku juga anak baik! Lalu mengapa Tuhan tidak
menyayangiku, ayah?! Mengapa?!”
Ayahnya hanya diam, menunggu
emosi di depannya mereda. Namun justru semakin meledak-ledak.
“Apa yang pernah kulakukan? Salah
apa aku, ayah? Tuhan mengambil ibu. Tuhan membuat hidup ayah sulit. Tuhan tidak
memberiku rezeki yang layak untuk membahagiakanmu. Tuhan membuat aku tidak bisa
sekolah. Tuhan sempat memberi kebahagiaan padaku. Namun segera direbutnya
kembali! Kalau Tuhan menyayangiku, mengapa tidak Ia lakukan semua sebaliknya?!
Aku selalu rajin berdoa dulu! Tapi mengapa?! Apa dosa-dosaku, ayah?! Apa??!”
Terisak-isak ia melanjutkan,
“mengapa Tuhan tidak mengambil nyawaku saja?! ….tapi tidak! Tentu aku tidak
mau! Karena masih ada kau yang sangat kusayangi, ayah! Hidupku saat ini
senantiasa hanya untuk bahagiakanmu!”
Tidak tahan lagi, tuan Roan pun
memeluk anaknya erat dengan air mata mengucur dari pelupuknya.
“Menangislah, nak, menagislah.
Tangisanmu adalah nyanyian yang indah bagiku. Tangisanmu adalah indah
dibandingkan dengan umurku delapan tahun ini menunggu kebisuanmu. Tangis lebih
baik daripada diam, nak,”
Mereka terus berdekapan. Pemuda
22 tahun itu kini terlihat seperti bocah lelaki yang menangis dalam dekapan
ayahnya.
Hujan terus mengguyur dengan
derasnya. Sesaat ayahnya berbisik, "Tuhan tidak seburuk itu sama sekali. Paling tidak, Tuhan masih memberikan aku padamu saat ini," ucap ayahnya singkat. Sengaja tak ingin menasehatinya saat ini, emosi masih meraja di jiwanya. Kata-kata panjang hanya akan dilahap emosinya dalam sekejap. Ayah Vince hanya bersabar. Ia malah bersyukur pada Tuhan, anaknya telah bersuara setelah sekian lama.
(image source: tstockphoto)

T_T *trs inget diri sendiri* hehehe..
ReplyDelete