Vince (part 1)

Untuk membuka kategori cerpen di blog ini, saya akan berbagi cerpen yang pernah saya tulis di bangku SMA sebagai pemanasan. Kekurangan dalam tata bahasa, ide cerita, maupun alur cerita, mohon dimaklumi berhubung masa SMA saya tidak diwarnai dengan banyaknya kegiatan membaca cerita dan menulis cerita. Semoga menikmati :D
==============================================================

            Vince, begitu ia biasa dipanggil. Nama yang sudah lama dibanggakannya ini semata-mata adalah pemberian ayahnya. Vince memang anak lelaki yang periang, penurut dan baik hati, awalnya. Namun, semenjak ibunya meninggal, semua menjadi lain. Ia kini hanya pemuda pemurung yang setiap harinya diam. Dia masih taat terhadap ayahnya, namun hampir tak pernah bicara seperti dulu lagi. Vince seakan lupa bagaimana dulu ia pandai melucu dan bercerita pada ayah dan ibunya.

            Suatu sore, ayah Vince, tuan Roan, memanggil putranya. Duduk berhadapan di beranda rumah kayu mereka. Sang tua memulai perbincangan.
“Kalau aku tidak salah ingat, sudah 8 tahun aku tidak bicara lagi denganmu selayaknya ayah dan anak lelakinya.”
Vince membalasnya dengan keheningan.
Ayahnya melanjutkan,”apa yang selama ini ada dalam pikiranmu? Mengapa tahun-tahun selama ini tak pernah kau katakan?”
Vince masih diam, sambil masih menatap pada pohon kastanye di sebelah rumahnya.
“…tak adakah lagi hasrat bagimu untuk bercerita padaku walau sedikit?”.
Akhirnya Vince pun menjawab, “apa yang harus kuceritakan pada ayah? Apa yang ayah inginkan dariku? Bisa kulakukan apa saja. Aku bisa jadi apa saja untukmu.”
“Aku hanya ingin kau, nak.”
“Aku? Aku yang bagaimana? Kau ingin aku seperti apa?” jawab Vince yang masih menatap pohon kastanye itu.
Ayahnya menunduk, “Aku rindu padamu, nak, rindu sekali,”
“Apa yang ayah rindukan dari aku?” jawab Vince.
Kemudian dilanjutkannya lagi, “Segala telah kulakukan untukmu. Aku bekerja, aku selalu membantumu. Apa lagi yang harus kulakukan?”
“Vince, aku mohon, umurku sudah tidak sepanjang kau, nak…”
Belum sempat melanjutkan, Vince segera memotong cepat, “Apa! Ayah hendak katakana apa?! Ayah hendak meninggalkan aku lagi seperti ibu?! Seegois itukah orang-orang di bumi ini?! Pergi dengan damai tanpa memedulikan orang-orang yang ditinggalkannya?!”
“Vince…”
Namun cepat dipotong oleh Vince kembali.
“Apa yang ayah inginkan? Kulakukan segalanya jika ayah mau! Akan kubuat kau bahagia selamanya di sini sampai kau lupakan niatanmu untuk meninggalkanku! Kumohon jangan bicarakan hal ini lagi!”
Pembicaraan pun selesai dengan keheningan.

Malam berikutnya Vince tak bisa tidur. Kepalanya penuh segala macam pemikirannya. Samar-samar terdengar suara lembut dari ibunya.
‘Vince, jagalah ayahmu. Kaulah ksatria baginya. Jaga terus dia sampai kau dewasa nanti…’
Selanjutnya sudah tidak terdengar lagi, semakin jauh, jauh, jauh, dan hilang…
Kemudian ayahnya datang dan berucap, ‘Vince…Vince anakku, jika kau ada beban, berikanlah sebagian padaku. Jika kau lelah, sandarkan dirimu di punggungku. Tidak selamanya ksatria akan tangguh. Sekali waktu dia butuh jiwa lain… Nak, aku sangat menyayangimu, tak peduli berapa pun usiamu… Aku sangat menyayangimu…sangat menyayangimu…sangat menyayangimu…menyayangimu…’
Begitu terus berulang-ulang kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Vince. Terus, terus, sampai akhirnya….ia terbangun.
Mimpinya itu sudah cukup membuat dirinya bergetar hebat pagi harinya.

Sorenya ayahnya membuat secangkir cokelat panas kesukaan Vince dulu. Cokelat panas memang selayaknya di sore hujan seperti ini. Kemudian dipanggilnya anak itu.
“Vince, kemarilah,” pinta ayahnya lembut.
“Ayah ingin bicara?” jawab Vince.
“Tidak, aku hanya ingin memandangimu. Jika kau sedang tak ingin bicara, tidak perlu bicara.”
Kemudian kesenyapan melingkupi mereka berdua, walau suara hujan terasa bising dan berirama. Namun itu cukup sepi bagi mereka.
Cukup lama mereka diam. Namun akhirnya ayahnya memulai.
“Kau ingat, mengapa air bisa turun dari langit?”
Sepersekian detik, pikiran Vince melayang. Saat itu, hujan sangat deras. Vince kecil sedang berjalan berpayungan bersama ayahnya. Pertanyaan itu pun muncul, ‘mengapa air bisa jatuh dari langit, ayah?’ Tanya Vince dengan muka polos dan suara lucunya.
Sedetik kemudian jiwanya telah pulang.
“Air terlalu sombong. Tempatnya itu di darat, namun ia ingin terbang ke langit karena iri melihat awan yang senantiasa terbang bebas…”
Belum sempat ayahnya melanjutkan, Vince meneruskan.
“Ia minta bantuan mentari untuk mengangkatnya ke atas. Namun, lama-kelamaan ia tidak tahan menahan beban sulitnya hidup di langit yang terlalu tinggi dan dingin itu baginya, hingga ia jatuh kembali ke bumi. Karena memang di situlah tempat dia berada seharusnya.” Jawab Vince masih dengan muka datar.
“Ya, air itu kurang bersyukur. Kurang mensyukuri keadaan yang telah diberikan padanya. Ia tak pernah puas. Tiap makhluk memiliki tempatnya sendiri-sendiri.”
Detik selanjutnya berada dalam keheningan kembali. Kali ini cukup lama juga. Tak ada yang memulai. Keheningan ini membuai lamunan Vince pada mimpinya semalam. Kata-kata ayahnya yang samar-samar masih berlalu-lalang di kepalanya muncul kembali dengan jelasnya. Sampai akhirnya Vince memulai dengan suaranya yang sangat pelan. Dengan menunduk, ia berkata,
“…emm..kau menyayangiku?”
Namun suaranya tergerus kebisingan hujan.
“Kau berkata apa, nak?” tanya ayahnya.
“… apa ayah benar-benar menyayangiku?” masih tertunduk.
Ayahnya tersenyum.
“Vince, kau anakku, aku sangat menyayangimu.”
“Kau menyayangiku sebagai anakmu atau sebagai Vince?” lanjut Vince.
“Aku sayang padamu sebagaimana adanya dirimu. Siapa pun dirimu itu.”
Vince hanya bisa menatap sosok di depannya dalam-dalam. Mata yang tadinya sayu, sedikit-sedikit mulai berair. Gejolak pun mulai melanda jiwanya.
“Lalu kenapa? Kenapa, ayah? Cobalah kau terangkan padaku. Ayah menyayangiku, ibu menyayangiku, aku juga menyayangi kalian. Kupikir aku juga anak baik! Lalu mengapa Tuhan tidak menyayangiku, ayah?! Mengapa?!”
Ayahnya hanya diam, menunggu emosi di depannya mereda. Namun justru semakin meledak-ledak.
“Apa yang pernah kulakukan? Salah apa aku, ayah? Tuhan mengambil ibu. Tuhan membuat hidup ayah sulit. Tuhan tidak memberiku rezeki yang layak untuk membahagiakanmu. Tuhan membuat aku tidak bisa sekolah. Tuhan sempat memberi kebahagiaan padaku. Namun segera direbutnya kembali! Kalau Tuhan menyayangiku, mengapa tidak Ia lakukan semua sebaliknya?! Aku selalu rajin berdoa dulu! Tapi mengapa?! Apa dosa-dosaku, ayah?! Apa??!”
Terisak-isak ia melanjutkan, “mengapa Tuhan tidak mengambil nyawaku saja?! ….tapi tidak! Tentu aku tidak mau! Karena masih ada kau yang sangat kusayangi, ayah! Hidupku saat ini senantiasa hanya untuk bahagiakanmu!”
Tidak tahan lagi, tuan Roan pun memeluk anaknya erat dengan air mata mengucur dari pelupuknya.
“Menangislah, nak, menagislah. Tangisanmu adalah nyanyian yang indah bagiku. Tangisanmu adalah indah dibandingkan dengan umurku delapan tahun ini menunggu kebisuanmu. Tangis lebih baik daripada diam, nak,”
Mereka terus berdekapan. Pemuda 22 tahun itu kini terlihat seperti bocah lelaki yang menangis dalam dekapan ayahnya.
Hujan terus mengguyur dengan derasnya. Sesaat ayahnya berbisik, "Tuhan tidak seburuk itu sama sekali. Paling tidak, Tuhan masih memberikan aku padamu saat ini," ucap ayahnya singkat. Sengaja tak ingin menasehatinya saat ini, emosi masih meraja di jiwanya. Kata-kata panjang hanya akan dilahap emosinya dalam sekejap. Ayah Vince hanya bersabar. Ia malah bersyukur pada Tuhan, anaknya telah bersuara setelah sekian lama.

(image source: tstockphoto)

1 comment:

  1. T_T *trs inget diri sendiri* hehehe..

    ReplyDelete