Maklum, Desember
Maklum, Desember.
Begitu kata teman saya di suatu media sosial saat menjawab komentar orang tentang tulisannya yang dibilang 'galau'. Sudah topik umum lah ya soal pergejolakan akhir tahun bagi banyak orang apalagi di umur-umur kuartal. Ada yang puas dengan tahun yang telah dilalui dan makin semangat untuk menyambut yang baru, ada yang baru pulih dari tahun yang suram dan penuh tekad positif untuk membuka lembar selanjutnya (seperti saya tahun lalu), dan banyak juga yang menilai dengan tinta merah di rapor tahunannya sendiri, atau menanggung kekhawatiran yang mau tak mau harus segera diakhiri karena tahun selanjutnya mengejar datang (seperti saya tahun ini hehe).
Yang pasti, Desember selalu mengundang aura yang berbeda. Di luar adanya perayaan natal dan tahun baru yang meriah, pasti banyak juga keterkejutan 'udah Desember?' dimana-mana. Desember menuntut kita mengevaluasi apa yang sudah dicapai tahun ini, apa yang dianggap prestasi, apa yang kurang. Desember menuntut kita menyelesaikan urusan-urusan yang belum selesai, baik dalam maupun luar diri. Desember memaksa otak kita terperas keras untuk menciptakan ide gebrakan hidup di tahun selanjutnya. Desember memutar sekrup memori kita tentang kejadian sepanjang tahun. Desember mengendapkan kenangan dan memupuk harapan. Desember Desember Desember yang melakukannya. Atau kita? Ah santai saja, saya bukan mau berfilosofi. Cuma mau mengatakan, adalah wajar jika banyak kegundahan di bulan Desember.
Saya sendiri, Desember tahun ini sangat bertolak belakang dengan Desember tahun lalu. Semangat saya berapi-api saat menyambut Desember tahun lalu, segala kesabaran sulit dihimpun untuk mempercepat datangnya tahun baru dan Desember adalah gerbangnya. Gerbang nasib baik, saya bilang saat itu. Waktu berjalan lambat. Sekarang, saya ternganga betapa cepatnya Desember datang, gerbang yang tidak saya nanti. Banyak hal berubah begitu cepat, secara bersamaan tidak ada yang berubah dalam waktu cukup banyak. Waktu berlalu (terlalu) cepat.
Tapi apa boleh buat, siap tidak siap waktu terus berputar. Saya juga tidak mau kalah berputar. Kegundahan dan kekhawatiran tidak akan melahirkan solusi. Sekarang cukup tanam kepercayaan, bahwa di setiap episode baru akan ada tantangan baru yang mungkin tak terduga (baca: tak menyenangkan), tapi juga pasti ada kemenangan-kemenangan baru. Sambut saja dengan tangan terbuka. Asal terus berputar bersama waktu tidak lupa. Jangan hanya menonton waktu lewat tanpa permisi dengan terpana.
Jadi kegundahan, kekhawatiran, penyesalan, keraguan, kegamangan, kembimbangan atau apapun kegalauan lainnya adalah hal yang wajar mengiringi Desember. Tak tahu arah, hilang arah, mencari arah. Desember menjadi pengingatnya. Tenang, itu memang fase. Banyak orang mengalaminya. Jadi tanggapi saja semua pertanyaan dan keraguan yang datang dengan bilang, "maklum, Desember!" sambil ambil lagi pensil yang baru untuk menggambar kertas putih kita selanjutnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment