Menyambut pagi di kereta


Aku selalu suka adegan menyambut pagi di kereta. Itu mengapa aku suka naik kereta berlama-lama, melewati malam hingga pagi. Itu tidak pernah membuatku bosan, setidaknya sejauh ini. Saat yang lain mengeluhkan lamanya perjalanan naik kereta Jakarta-Malang dan mengecek jam serta waktu yang tersisa secara berkala, atau sibuk mencari kegiatan dan obrolan di kereta Jakarta-Jogja-Banyuwangi, aku menikmati tiap waktu yang terseret perlahan menuju pagi dan seterusnya.

6 Oktober 2014, di kereta Jakarta-Jogjakarta

Semalaman aku tak bisa tidur. Baru bertemu lagi dengan bangku tegak lurus kereta ekonomi setelah sekian tahun, aku belum terbiasa. Belum lagi yang duduk di depanku orang asing, terhantam tata krama duduk rapih tak tertulis, dengkul kami hampir saling beradu, sungguh tak nyaman.

Mata terpejam, badan terus bergerak kanan kiri, ergh menyiksa. Lewat tengah malam aku baru bisa pejamkan mata sedikit, mungkin sekitar jam 3 dini hari aku baru tidur nyenyak. Entah apa yang membawa kesadaranku kembali walau baru tidur sebentar, tapi aku sangat beruntung mataku sedikit terbuka di waktu yang tepat. Aku tidak melewatkan detik-detik menuju pagi! Hore!

Semburat merah mulai menyusup di langit kejauhan. Sadar pagi sudah dalam prosesnya untuk tiba, segera kukumpulkan seluruh diri dan membuka mata lebar-lebar. Menatap proses terbit atau tenggelamnya matahari selalu membius. Sepertinya ada sesuatu antara warna merah mentari dengan mata dan otak manusia.

Jendela di sebelahku yang tadinya hitam gelap mulai menampakkan pemandangan segar. Kabut tipis mengambang rendah di atas perkebunan jagung. Perkebunan jagung yang tak lagi muda, namun tak juga siap untuk dipanen. Latar belakang perkebunan dan pegunungan masih menghampar luas. Kaca jendelaku lembab oleh embun. Pikiranku terlempar jauh ke masa yang rimbun. Tontonan menyegarkan ini bertahan hingga matahari mulai naik sedikit. Oh, kami sampai di Jogjakarta. Untung adegan ini berakhir bahagia.

19 November 2014, di kereta Malang-Jakarta

Adegan menyambut pagi di kereta kali ini dimeriahkan oleh kabut tebal di persawahan yang selesai dipanen dan tanah yang selesai dibajak. Di balik kabut ada sekelebat bayangan hitam pepohonan di kejauhan. Pelan-pelan matahari memuncratkan sinar jingganya dari langit yang mulai robek. Tumpah membias di kabut dan mengilat di besi rel kereta di sebelahku.

Saat ini aku di jalan pulang dan pada pukul 06.35 pagi ini kereta telah melintasi daerah Karangwangun, Babakan, sebelum Cirebon. Teman-teman seperjalananku semuanya sedang tidur. Tidur berlebihan yang terjadi di perjalanan pulang pada umumnya. Aku terbangun untuk tidak melewatkan munculnya pagi di kereta dan melempar sauh dari perjalanan ini.

Setiap perjalanan membuahkan satu dua pelajaran dari dunia, dari alam, dari manusia, dari segalanya. Untuk perjalanan ini aku memetik bahwa kita sepenuhnya memegang kendali atas cerita harian kita. Kita memilih nasib dan apa yang kita rasakan. So, choose your feelings and words wisely, it leads your fate. Kedua, ada banyak kepribadian yang tak kita kenal di dunia, maka jadilah terbuka. Bagaimanapun, pertemanan, apapun jenis dan bentuknya, selalu berharga.

Perjalanan ini telah selesai, tapi perjalananku belum. Ada hal-hal yang belum terjawab. Seperti, ada ujung benang yang tersangkut di rambutku. Dimana aku ingin melepasnya dengan berlari kesana kemari, tapi malah mendapati benang makin kusut dan diri makin terjebak erat. Aku ingin selesaikan urusan denganmu.

Ya, walau kita pergi bersama, tapi perjalananku belum tentu perjalananmu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------
Nb: berharap suatu saat bisa naik kereta melintasi Eropa atau Rusia dan menyambut pagi disana, apa sensasinya? fufu

No comments:

Post a Comment