Catatan Akhir Perjalanan Bali-Lombok
"Sebutkan tiga hal yang lo petik dari perjalanan ini?"
Tanya Erby di kereta yang melaju ke Jogjakarta setelah perjalanan backpacking Bali-Lombok berakhir 13 Oktober 2014 lalu. Dari perjalanan 10 hari dengan rute Jakarta-Bali-Gili-Jogjakarta tersisa kami berdua di jalan pulang, sisanya dua orang pulang jalur cepat karena ada keperluan.
Aku diam sejenak mendengar pertanyaan yang menggelitik itu. Diam karena memilah memori dan mengendapkan yang belum terserap. Selama perjalanan aku merasakan banyak mendapat ilham dan inspirasi, tapi ternyata saat harus diungkapkan semuanya jadi riuh di pikiran haha. Dalam hati berkata 'Sial, kenapa bukan gue duluan yang tanya begitu.' Kemudian dengan ragu dan masih terus memutar memori aku menjawab:
Satu, gue harus lebih banyak melakukan perjalanan.
Jawaban ini langsung disambar Erby dengan "ah, klise, jangan yang general banget dong haha."
Oke, mungkin yang gue maksud saat itu lebih seperti ini by, selama ini gue merasa bahwa gue adalah seseorang yang petualang banget. Gue akan dan bisa menjalani semua penjelajahan, memahami segala macam medan. Tapi ternyata, harus gue akui bahwa gue memang nggak sebanyak itu pengalaman, untuk menjadi lebih paham dan bijak. Gue menyadari bahwa perjalanan kerap memberikan inspirasi, energi, dan segala positivisme. Dan gue menyadari bahwa gue kurang banyak melakukan perjalanan, gue menyadari gue lama tenggelam dalam angan-angan dan kesombongan. Yang maya. Dunia gue sendiri.
Kedua, ada momen saat di Gili Trawangan gue merasa, di samping menikmati kehingarbingarannya, gue merasa sendirian dan kesepian. Ada cermin di kepala gue yang merefleksikan betapa gue sendirian di dunia yang hiruk pikuk ini. Dan terkadang gue merasa nggak terkoneksi dan nggak tahu yang gue mau. Dunia di luar terlihat dan terasa samar dan bohong belaka. Gue jadi berpikir lagi apa itu kesenangan dan apa hal yang nyaman dan yang gue inginkan. Ini agak abstrak memang dan sampai sekarang gue belum bisa menjelaskannya dengan lebih baik lagi.
Ketiga, gue patah hati di Ubud. Gue memang sudah patah hati sejak berangkat, sih. Tapi di Ubud semuanya buyar. Awalnya ingin menyerah dan mengakhiri hari dengan berdiam diri, tapi untungnya gue memutuskan untuk tetap menikmati perjalanan dan pura-pura bodoh pada kenyataan. Dan aksi-reaksi berlaku, perjalanan ini pun membantu gue melaju. Gangguannya tak hilang dan lupa sama sekali, tapi paling tidak semuanya terasa lebih ringan. Ada keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di luar sana. Banyak cerita yang lebih menyenangkan untuk disimak di dunia. Banyak adegan yang lebih menarik untuk diperhatikan di sekitar kita. Perjalanan melahirkan keyakinan untuk melaju dengan baik-baik saja karena perjalanan membantu untuk lewat dengan menyesapi masa sekarang, menjadi hadir bagi dunia.
Tiga hal tadi yang aku ungkapkan pada Erby di kereta saat itu. Tapi kemudian, sesampainya di rumah, aku menambahkannya untuk diri sendiri. Ada beberapa hal yang ingin aku catat juga dari perjalanan ini.
Pertama, atau keempat sih ya. Ada beberapa momen membahagiakan terkendali yang membawa kesenangan sederhana dalam diri. Menyambut pagi di kereta (yang ini super favorit!), melihat kerajinan gelas warna warni yang memikat hati, menggunakan kain Bali dan bunga kemboja di telinga seperti wanita Bali, makan tempe bakar yang membuat terobsesi (haha), menatap berlama-lama bulan bundar yang menggantung rendah di atas laut Gili, bertemu kenalan baru, dan membaca buku The Geography of Bliss di perjalanan pulang sendirian dari Jogjakarta ke Jakarta. Semua momen itu akan lebih kita hargai saat kita sadar kalau itu ada. Momen-momen yang menghasilkan kebahagiaan yang bukan gembira berlebihan, yang Eric Weiner menyebutnya conjoyment. Hal-hal seperti ini jarang kita sadari--apalagi syukuri-- saat kita tergilas rutinitas. Padahal hal-hal ini sesederhana menyesap teh hangat di hari hujan atau mendapati pekerjaan telah selesai di akhir minggu.
Kelima, selalu ada orang baik yang dihampiri dalam setiap perjalanan. Dan dalam perjalanan ini, kami mendapati mas K sebagai orang yang memenuhi sosok itu. Kebaikan dan pertemanan yang ditawarkannya tak tanggung-tanggung. Cerita mengenainya bisa diintip dari blog Erby disini. Orang-orang baik ini mungkin akan muncul, tapi jangan pernah mengharapkannya di awal atau menerka-nerka siapa yang akan mengisi sosoknya karena di akhir perjalanan kita akan tahu sendiri.
Keenam, dalam perjalanan ini kepekaan hatiku diasah kembali. Aku menyadari ada sosok dalam diriku yang acuh dan malas berbuat baik. Kelenturan hatiku mulai terkikis, aku sadari. Berkaca dari sikap teman-teman juga, aku merasa perlu untuk mengasah lagi hal ini.
Ketujuh, ternyata ada hubungan-hubungan yang bisa berubah hanya dalam waktu semalam, asal kau memberi kesempatan. Aku senang bisa kemudian akrab dengan adik sepupuku yang kami jumpai di Denpasar. Adik sepupu yang dulu hanya bertemu saat lebaran dan tak pernah saling berbasa-basi, kini ia sudah dewasa dan sibuk menggeluti musik sebagai hobi. Kami mendengarkan lagu-lagu ciptaannya dan aku bernyanyi bersamanya lagu Ke Entah Berantah dari Banda Neira yang menyimpan memorinya sendiri.
Terakhir, aku pulang dari perjalanan ini dengan perasaan bersyukur dikelilingi oleh teman-teman dengan karakter yang tak terbandingkan. Selama perjalanan aku banyak juga belajar dari mereka.
Sekian catatan akhir perjalanan Bali-Lombok-Jogja ini sebagai pembuka. Untuk catatan-catatan selanjutnya mengenai perjalanan ini tengok pada label BaliLombokJogja.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment