tulisan lampau yang diselamatkan dari facebook, ditulis pada 12 Maret 2010
Hai kamu makhluk yang berjalan, merayap, dan tertanam di dunia.
Tidak lelahkah kamu?
Sepertinya memang sudah ahli, jago sekali.
Ya, kamu jago, penguasa alam semesta.
Kamu hidup dimana saja, bisa jadi apa saja.
Kamu punya kaki, yang berjalan di tanah basah.
Kulitmu halus terterpa sinar lembut mentari.
Kamu punya telinga, yang mendengar deru angin dari awan.
Kamu punya jejari, yang di selanya menempel pepasiran, mengganjal tapi menyenangkan.
Kamu pergi ke hutan, mendaki gunung, memanjati pepohonan.
Tidak lagi berjalan, melainkan melompat.
Ibu jarimu berputar arah.
Kamu terus naik, naik ke tempat tinggi, paru-parumu membesar.
Darahmu memerah.
Kamu menemukan tebing, tebing batu.
Cakram terbentuk pada jejari bawahmu.
Menghujam bebatuan, kuat.
Kamu memanjat tebing.
Semakin tinggi, tinggi, tinggi, akhirnya sampai puncak.
Kemudian kamu melihat sekitar, awan, dingin, tinggi.
Kamu melompat.
Dan terbuka sayapmu.
Bulu-bulu merobek kulitmu, berebutan tumbuh dengan cepat.
Kakimu memendek, wajahmu menjadi jelek.
Kamu terbang.
Menembus awan, menukik, berputar-putar, kamu suka udara!
Kamu terbang di atas sungai.
Kemudian terjatuh.
Bulumu luruh.
Terganti kepingan kasar tersusun menggenting, sisik.
Kamu punya sisik sekarang.
Lehermu memendek, kemudian terkerat.
Oh, muncul ventilasi di lehermu, kamu bisa bernafas di dalam air sekarang.
Kakimu menyatu, dan menjadi lentur.
Kamu berenang, oh badanmu sangat lentur dan licin.
Kamu berenang dengan cepat.
Kamu meloncat-loncat kegirangan.
Sungai mengalir ke muara.
Muara pintu gerbang laut.
Masuk ke laut, darahmu menipis.
Sisik sisik luruh, kulitmu menebal.
Rahangmu membesar dan gigi geligimu meruncing.
Tubuhmu membesar.
Kamu menguasai lautan. Kamu hebat.
Ombak semakin besar, kamu terhempas ke pesisir.
Tubuhmu menyentuh pasiran.
Tergulai.
Hanya beberapa detik.
Kemudian kamu merayap ke atas menjauhi air.
Kamu membungkuk menuju daratan.
Kamu berjalan sendirian.
Kamu terjatuh dan kali ini memilih diam.
Kamu terdiam di tanah basah.
Kepalamu memanjang, menuju langit biru.
Kakimu melawan arah, menuju inti bumi.
Kamu berdiri tegak, tertancap kuat pada batuan.
Kamu terus bercabang.
Kamu kini memilih diam, kamu diam beristirahat, kamu diam menikmati dunia.
Kamu disukai yang lain.
Kamu tenang dan tersenyum, ditiup angin ringan.
Diterpa mentari damai.
Kamu suka diam.
Hai kamu sang oportunis.
Kamu yang hidup di darat, air, dan udara.
Kamu yang hidup antara pagi dan siang, siang dan sore, sore dan malam, dan malam dan pagi.
Hai kamu sang oportunis.
Kamu jago.
Sangat cepat kamu berubah.
Tidak lelahkah kamu?
Yang mana sebenarnya wujudmu?
Atau kesemuanya itu?
Hai kamu sang oportunis.
Kamu yang hidup diantara.
Waktu diantara, Tempat diantara, Warna diantara.
Apa memang itukah jati diri kamu?
Lalu mengapa dipermasalahkan?
Tidak lelahkah kamu?
Sepertinya memang sudah ahli, jago sekali.
Ya, kamu jago, penguasa alam semesta.
Kamu hidup dimana saja, bisa jadi apa saja.
Kamu punya kaki, yang berjalan di tanah basah.
Kulitmu halus terterpa sinar lembut mentari.
Kamu punya telinga, yang mendengar deru angin dari awan.
Kamu punya jejari, yang di selanya menempel pepasiran, mengganjal tapi menyenangkan.
Kamu pergi ke hutan, mendaki gunung, memanjati pepohonan.
Tidak lagi berjalan, melainkan melompat.
Ibu jarimu berputar arah.
Kamu terus naik, naik ke tempat tinggi, paru-parumu membesar.
Darahmu memerah.
Kamu menemukan tebing, tebing batu.
Cakram terbentuk pada jejari bawahmu.
Menghujam bebatuan, kuat.
Kamu memanjat tebing.
Semakin tinggi, tinggi, tinggi, akhirnya sampai puncak.
Kemudian kamu melihat sekitar, awan, dingin, tinggi.
Kamu melompat.
Dan terbuka sayapmu.
Bulu-bulu merobek kulitmu, berebutan tumbuh dengan cepat.
Kakimu memendek, wajahmu menjadi jelek.
Kamu terbang.
Menembus awan, menukik, berputar-putar, kamu suka udara!
Kamu terbang di atas sungai.
Kemudian terjatuh.
Bulumu luruh.
Terganti kepingan kasar tersusun menggenting, sisik.
Kamu punya sisik sekarang.
Lehermu memendek, kemudian terkerat.
Oh, muncul ventilasi di lehermu, kamu bisa bernafas di dalam air sekarang.
Kakimu menyatu, dan menjadi lentur.
Kamu berenang, oh badanmu sangat lentur dan licin.
Kamu berenang dengan cepat.
Kamu meloncat-loncat kegirangan.
Sungai mengalir ke muara.
Muara pintu gerbang laut.
Masuk ke laut, darahmu menipis.
Sisik sisik luruh, kulitmu menebal.
Rahangmu membesar dan gigi geligimu meruncing.
Tubuhmu membesar.
Kamu menguasai lautan. Kamu hebat.
Ombak semakin besar, kamu terhempas ke pesisir.
Tubuhmu menyentuh pasiran.
Tergulai.
Hanya beberapa detik.
Kemudian kamu merayap ke atas menjauhi air.
Kamu membungkuk menuju daratan.
Kamu berjalan sendirian.
Kamu terjatuh dan kali ini memilih diam.
Kamu terdiam di tanah basah.
Kepalamu memanjang, menuju langit biru.
Kakimu melawan arah, menuju inti bumi.
Kamu berdiri tegak, tertancap kuat pada batuan.
Kamu terus bercabang.
Kamu kini memilih diam, kamu diam beristirahat, kamu diam menikmati dunia.
Kamu disukai yang lain.
Kamu tenang dan tersenyum, ditiup angin ringan.
Diterpa mentari damai.
Kamu suka diam.
Hai kamu sang oportunis.
Kamu yang hidup di darat, air, dan udara.
Kamu yang hidup antara pagi dan siang, siang dan sore, sore dan malam, dan malam dan pagi.
Hai kamu sang oportunis.
Kamu jago.
Sangat cepat kamu berubah.
Tidak lelahkah kamu?
Yang mana sebenarnya wujudmu?
Atau kesemuanya itu?
Hai kamu sang oportunis.
Kamu yang hidup diantara.
Waktu diantara, Tempat diantara, Warna diantara.
Apa memang itukah jati diri kamu?
Lalu mengapa dipermasalahkan?
komentar Bergas Bimo Branarto:
bukankah kehidupan alam semesta adalah sebuah siklus panjang dan berulang? bukankah siklus itu akan bergerak begitu2 saja sebagai bagian dari fenomena alam dengan hukum sebab-akibat yang juga begitu2 saja?
yang membuatnya berbeda adalah cara kita memandang semua itu. ada yang memandangnya sebagai penderitaan, ada yang memandangnya sebagai kenikmatan. dan lagi ada banyak metode untuk memperoleh pandangan2 itu.
tanyalah pada para brahmana, kenapa dan bagaimana dia 'mengubah' dirinya menjadi api ketika ada bagian tubuhnya yang terbakar.
lalu kenapa dan bagaimana juga dia 'mengubah' dirinya menjadi batu untuk menghindari serangan ular dengan menyamarkan diri sebagai benda mati.
serta kenapa dan bagimana dia menghadapi (atau menikmati) tiap rasa sakit dengan 'mengubah' dirinya menjadi rasa sakit itu sendiri.
dia terus mengubah dirinya dengan menyatu bersama alam untuk menikmati seluruh fenomena dalam menyikapi pandangannya akan kehidupan. jika demikian, apakah dia adalah seorang oportunis?
- - - - definisi KBBI - - - -
opor·tu·nis·me n paham yg semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dr kesempatan yg ada tanpa berpegang pd prinsip tertentu
yang membuatnya berbeda adalah cara kita memandang semua itu. ada yang memandangnya sebagai penderitaan, ada yang memandangnya sebagai kenikmatan. dan lagi ada banyak metode untuk memperoleh pandangan2 itu.
tanyalah pada para brahmana, kenapa dan bagaimana dia 'mengubah' dirinya menjadi api ketika ada bagian tubuhnya yang terbakar.
lalu kenapa dan bagaimana juga dia 'mengubah' dirinya menjadi batu untuk menghindari serangan ular dengan menyamarkan diri sebagai benda mati.
serta kenapa dan bagimana dia menghadapi (atau menikmati) tiap rasa sakit dengan 'mengubah' dirinya menjadi rasa sakit itu sendiri.
dia terus mengubah dirinya dengan menyatu bersama alam untuk menikmati seluruh fenomena dalam menyikapi pandangannya akan kehidupan. jika demikian, apakah dia adalah seorang oportunis?
- - - - definisi KBBI - - - -
opor·tu·nis·me n paham yg semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dr kesempatan yg ada tanpa berpegang pd prinsip tertentu
No comments:
Post a Comment