Orang Jakarta Jaman Sekarang?

tulisan lampau yang diselamatkan dari facebook, ditulis pada 28 Maret 2010

Jadi begitu ya orang Jakarta jaman sekarang?
Hmm..tidak tahu apakah highlight harus dilakukan pada kata Jakarta atau jaman sekarang.
Itu hanya perspektif saya saja karena saya hidup di Jakarta dan hidup di jaman sekarang.
 
Tulisan ini saya buat karena beberapa kali saya merasa miris terhadap sikap dan perilaku makhluk Jakarta saat ini.

Pertama, seorang pengendara bermotor yang masih saya ingat telah memberikan dendam kesumat pada hati saya.
Hai pengendara bermotor, masih ingatkah kamu pada saya?
Pakaianmu begitu rapi, motormu begitu terlihat mahal dan keren, oh merk ternama.
Warna jaket, helm, dan sepatunmu sangat selaras dengan motormu, oh sangat bergaya.
Penampilanmu menampakkan kamu adalah lelaki dewasa yang terpelajar.
Tapi bagaimana perilakumu? Oh, you can't behave, man.
Saat saya menyeberang dan semua kendaraan telah berhenti, kamu masih ngotot menginjak pedalmu, malah semakin kencang.
Saat saya di depanmu dan sudah mengulurkan tangan tanda permisi, kamu tidak peduli, kecepatanmu tetap sama, sama kencang.
Saat saya tepat di depanmu saya jadi bingung dan panik karena hampir terserempet, kamu kemudian melakukan rem mendadak.
Saat itu seharusnya saya yang marah, tapi apa yang kamu lakukan?
Dengan kerasnya kamu menghadap saya, menatap saya, dan mengeluarkan kata itu dengan satu nada bentakan keras dan tidak beradab:

ANJ******NG!!!!!

Saya terus menatapnya sambil terperangah.
Saya masih terlalu kaget dengan sikapnya.
Saya tahu sekali kata liar itu bukan kata yang keluar secara spontan karena kaget melainkan karena dia begitu emosi.
Ohh..apa yang Anda lakukan, Tuan? Tega sekali Anda. Jahat.
Tega sekali Anda melakukan hal semacam itu di depan umum kepada gadis mahasiswi terpelajar intelektual harapan bangsa yang imut ini.
Dalam hati jahat saya yang emosinya meluap-luap berkata: semoga dia kecelakaan seketika sehingga motornya yg mahal itu rusak hancur gak bisa dipake lagi, kemudian dia harus jalan kaki kemana-mana, dan suatu saat dia menyeberang jalan, dia diperlakukan persis sama seperti yang saya alami.
Untuk kali itu saya sungguh-sungguh khusyuk berdoa, i mean it, this is my aching wish, God.
Kalau diingat-ingat ingin sekali pada saat itu saya lempar tas atau payung saya tepat di punggungnya atau di helmnya atau di rodanya tanda kekesalan saya yang sampai ubun-ubun, kemudian saya ajak berkelahi orang itu, walaupun saya tidak bisa berkelahi.


Kedua, pada saat terjadi pencurian motor di tempat parkir klinik dekat rumah saya.
Modus sang pencuri yang sok plonga plongo tidak bersalah itu sangat brilian sekaligus tolol luar biasa.
Seorang wanita muda tiba-tiba mendapati motornya sudah tengah dikendarai lelaki saat dia baru keluar dari klinik.
Dia mencegat lelaki itu dan bertengkar bahwa itu adalah motornya.
Namun lelaki itu dengan santai berkata "Ini motor saya."
Kemudian ada seorang wanita lainnya yang tiba-tiba duduk di belakang lelaki itu dengan alasan itu istrinya.
Yang menyedihkan adalah, banyak orang di sekitar klinik yang menyaksikan hal itu tapi tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya menjadi penonton.
Cerita ini diceritakan oleh ibu saya, namun ibu saya merasa sangat ketakutan.
Oooh padahal di lokasi banyak kaum adam yang kuat-kuat.
Tapi tidak ada yang mereka lakukan, membiarkan wanita muda itu berjuang sendirian, berteriak-teriak minta tolong dan dihiraukan.
Miris dan menyedihkan sekali.
Jelas-jelas kalau orang yang diambil sesuatu darinya secara medadak akan panik.
Dan kalaupun sepasang suami istri yang naik motor itu adalah benar pemiliknya pasti juga akan bingung dan panik karena motornya diaku-aku orang, tidak mungkin setenang itu.
Sampai akhirnya ibu saya berteriak "Cek STNK nyaaaaaaa!!!!!"
Kemudian setelah itu baru banyak orang bertindak, kebanyakan tukang ojek yang akhirnya menyadari kejadian itu.
Ooh..orang-orang sekitar klinik masih menjadi penonton, hanya tukang ojek seberang klinik yang berindak.


Ketiga, pelakunya adalah saya sendiri.
Saya gagal melakukan perbuatan heroik membantu orang lain karena merasa ragu, bingung, dan curiga.
Saya gagal mendengar hati saya yang sudah berteriak-teriak "bergerak bergerak bergerak!! bergerak dan tolong ibu itu!!"
Dan tahukah kamu bagaimana rasanya itu, kawan?
Sedih, merasa payah, merasa gagal, merasa jahat, dan itu tidak enak sekali karena kesempatan itu tiba-tiba hilang. Kesempatan menolong memang hanya datang dalam waktu yang singkat.
Saya kemudian pulang sambil menangis karena merasa gagal dan mengadukannya kepada ibu saya, ooh sungguh seperti anak kecil. Tapi itu sungguh saya alami.


Masih banyak hal kecil-kecil lainnya seperti acuhnya orang-orang saat ada orang lain kesusahan di tengah jalan. Saat ada orang kecopetan dan tak punya uang lagi, saat rantai motor seorang bapak lepas dan dia terlihat sangat kelelahan mendorong motornya, saat ban motor seorang bapak pecah saat hendak mengantar anaknya kuliah (ya, itu kisah ayah saya), saat seorang ibu tidak tahu arah jalan saat ingin menuju suatu tempat, atau seorang nenek peminta-minta yang kesulitan menyeberang rel (hai rekan-rekan intelektual saya sesama-kampus, walaupun dia peminta tapi dia tetap seorang nenek, wanita tua yang kemampuan fisiknya sudah kurang).

Yah begitulah bagaimana apatisnya orang Jakarta (atau orang jaman sekarang, saya tidak tahu), begitu juga saya walau terkadang tidak saya sadari.
Rasa peduli dan peka yang rendah, atau rasa kecurigaan terhadap sesama yang besar karena terus dihantui kisah kriminal?
Jakarta oh Jakarta...

No comments:

Post a Comment