Pramuka, Aku Pulang


“Akhirnya aku kembali kesini.”

Ucapku dalam benak saat kapal mulai merapat ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, 28 Mei 2014 lalu. Aku akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan pelarian dua hari ke Pulau Pramuka dengan membawa segala kegalauan dan kegundahan dari daratan besar Jakarta. Oh, juga berbekal kerinduan yang tak dapat terbendung lagi terhadap laut dan Pulau Pramuka sejak beberapa bulan lamanya.

Memang sudah hampir setahun aku tidak melihat laut saat itu, tidak tenggelam di dalamnya. Rindunya sampai membuat dadaku sesak, pikiran tak tentu, terbawa mimpi, sakau. Kepenatan di ibukota juga sudah membuat aku tak tahan lagi dengan khayalan berdiam di pinggir laut sekadar bengong duduk-duduk menyesap milo hangat sambil menunggu matahari terbenam. Dan teman yang selalu bisa diajak dalam misi dadakan dan memaksakan ini siapa lagi kalau bukan: Kiki. Selalu dia. Haha.

Sesampainya disana aku terdiam tertegun kaget. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada pulau ini. Sambil berjalan menyusurinya makin banyak kami sadari perubahannya. Awalnya aku bahkan merasa asing, ini bukan seperti Pulau Pramuka dulu yang aku kenal. Ini pulau wisata yang sudah tak menyisakan lagi ruang untuk berkenalan lebih personal. Atmosfer pulau ini makin pudar. Tempat-tempat berjualan memang makin ditata rapih, semuanya makin terlihat terorganisasi dalam rangka meningkatkan mutu wisata. Tapi ya aneh saja rasanya menurutku. Tidak ada lagi tanah kosong, semua berlomba-lomba mendirikan penginapan A-Z hingga ke paling belakang pulau. Awalnya agak sedih dan kecewa, tapi akhirnya ya aku terima saja apa adanya, tetap aku nikmati, mungkin memang itu sudah sewajarnya terjadi, cepat atau lambat. Tidak masalah, selama penduduk semakin sejahtera, ini hanya soal personal saja dalam diriku.

Rencana perjalanan sejak awal sudah disepakati hanya dua hal yang perlu dicapai: berenang di laut bagian belakang pulau dan duduk di lokasi yang sama berjam-jam hanya untuk membaca buku, melantur, dan membiarkan angan masing-masing melayang ke tempat yang kita tak perlu sama-sama tahu. Simpel.

Maka, setelah berkeliling pada siang harinya untuk menyapa orang-orang disana, berangkatlah kami sore harinya untuk berenang di bagian belakang pulau. Aku mengalami kegembiraan yang berlebih hingga lupa kalau sudah lama tidak berenang. Sudah lama tidak berenang di laut. Kedua pernyataan nilainya benar. Pertama mencapai kedalaman yang cukup dan terhempas ombak, aku kikuk. Seperti orang sudah lama tak bertemu kemudian melakukan kencan pertama lagi, rasanya canggung. Di satu sisi aku ingin tenggelam dalam birunya laut, aku terbiasa terbuai dalam pelukan laut, tapi kali ini aku kaku. Laut terasa belum menerima aku apa adanya, dia masih merasa asing terhadapku. Berenang hari itu pun berakhir dengan agak aneh, bukan perasaan nostalgia yang aku rasakan tapi malah kecanggungan yang menggantung. “Baik, tidak apa kali ini kita penjajakan dulu. Nanti saat aku datang lagi kita akan akrab seperti dulu,” kataku dalam hati sambil berenang menuju pesisir. Akhirnya kami selesaikan agenda berenang sambil tetap terendam di tepian menanti matahari habis terbakar di ujung sana dan tenggelam.

Sekarang tinggal agenda kedua, ini juga harus sukses dilaksanakan, pikirku. Segera saja aku bangunkan kiki pagi berikutnya dan mengajaknya sarapan di lokasi favorit. Sebelumnya kami pesan dulu roti bakar isi cokelat dan blueberry di warung terdekat dan milo hangat di warung terpisah. Di tangan masing-masing, sebuah buku fiksi sudah siap untuk dilahap. Ya, pagi ini akan kami habiskan hanya dengan berjam-jam membaca hingga mata lelah, bengong, tiduran, dan apa saja yang terkait dengan bermalasan. Aku membaca buku Albert Camus, Orang Asing dan Kiki membaca Titik Nol. Ah, yang seperti ini memang surga. Pagi yang ideal.


Kami sulit beranjak hingga akhirnya ketinggalan kapal. Beruntungnya, ada kapal yang lewat dari Pulau Harapan bersedia singgah setelah kami lambai-lambaikan tangan dari jauh sambil berteriak-teriak iba. Haha. Perjalanan pelarian pun berakhir walaupun belum bisa membereskan seluruh yang ada di kepala tapi paling tidak sudah mengobati kerinduan.

Di jalan, aku teringat akan perkataan seorang teman.
“Ngapain sih ke Pramuka, ke tempat lain ajalah, disitu kan udah padet banget.”

Aku menyadari sesederhana apapun Pramuka, seberubah apapun sekarang dan kemudian, pada akhirnya aku tetap akan bisa terima. Sudah ada ikatan tersendiri antara aku dan pulau itu, ada kenangan yang tak sengaja tertinggal. Aku “tumbuh” disana. Aku kenal lautnya, orang-orangnya. Jadi mengunjungi Pramuka bukanlah perkara wisata. Pramuka bagiku bukan destinasi, tapi tempat pulang. Yang sesekali perlu aku kunjungi. Jadi kalau suatu saat kamu kuajak ke Pramuka, jangan berpikir aku mengajakmu berwisata, tapi artinya aku ingin kamu melihat tempat aku pulang.

No comments:

Post a Comment