Pernah tidak, kamu membenci seseorang padahal tidak ingin membenci. Eh, atau entah sebaliknya, ingin membenci tapi tidak dapat sepenuhnya benci, kemudian jadi benci sendiri. Aku sedang.
Apa ini namanya?
Seperti kata sepotong sajak, bagai gelombang laut, dari jauh merindu pantai, sudah dekat pecah sendiri?
Aku diam dalam benci. Dan rindu. Dia diam dalam entah apa yang aku tidak tahu. Ingin aku melepas saja biar jangan ramai di kepala berdentam di dada, tapi sulit juga.
Saat bertemu semua memercik merah, penuh marah dan prasangka. Tidak ingin bicara. Apalagi bercerita. Terlebih lagi percaya. Tapi saat saling diam aku terus bertanya, kenapa selalu dia. Yang membuat gila. Dan menggolak jiwa. Sampai terasa hampa. Atau justru memuncak murka.
Aku ingin selalu pergi darimu. Tak lagi bertemu-temu. Hanya agar tidak benci. Dan meredam sendiri. Menjadi teman yang layak di entah kapan nanti. Daripada berjibaku dalam emosi.
Kenapa tidak bisa kita saling tersenyum saja. Dan menyapa sekadarnya. Tidak ada yang terusik tidak ada yang tertarik. Berjalan dalam damai tanpa melawan lupa. Begitu saja.
Lalu sebenarnya ada apa? Antara kita.
Sebenarnya ada apa? Dengan kamu. Dengan aku.
Kenapa tidak kita bicara? Seperti yang tidak pernah sebelumnya.
Bukan sekarang, mungkin besok atau lusa. Ya, kapan-kapan saja.
No comments:
Post a Comment